Masihkah kita Rahmatan Lil Alamin??

Masihkah kita Rahmatan Lil Alamin??

Opini

Sirajuddin, S.Pd.I., S. IPI., M. Pd.

Bulan Ramadhan sebagai penghulu dari segala bulan Sayyidussyuhur yang seyogyanya menjadi bulan terbaik untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri sehingga kita termasuk orang-yang kembali fitrah setelah menjalani serangkaian ritual ibadah Ramadhan dan….. “Rahmatan lil alamin” menjadi prasa populer yang sering muncul dari mulut para penceramah dan selalu jadi wacana.

Rahmatan Lil Almin secara umum difahami sebagai ajakan kepada kebajikan dan kebaikan da Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai subyek Rahmatan lil alamin (pembawa rahmat bagi seluruh manusia) sehingga dalam hal ini Allah mendelegasikan kepada sang manusia terpilih Rsulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perintah: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) diutus ke muka bumi ini kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya: 107).

Inkonsistensi dan tidak istiqamahnya (dibahasakan tidak ikhlas) manusia dalam melakoni tugas sebagai pengikut yang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai manifestasi (perwujudan) dari penghambaan kepada sang pencipta menjadi penyebab kerusakan di muka bumi.

Melalui opini ini penulis lebih jauh menyorot tentang eksistensi manusia dan intervensi manusia terhadap lingkungan sekaligus menggugat keislaman kita.

Rusaknya bumi dan lingkungan

The World Risk Report yang dirilis German Alliance for Development Works (Alliance), United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) dan The Nature Conservancy (TNC) pada 2012 pun menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu kawasan.

Kerusakan bumi dan alam disebabkan oleh pristiwa alam (seperti tsunami dan angin puting beliung ) dan ulah manusia, peristiwa Disteriorasi atau penurunan mutu lingkungan yang ditandai dengan berkurangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan lingkungan hidup ini memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia.

Jika kita evaluasi lebih jauh kita akan menemukan bahwa kerusakan bumi ini karena intervensi (campur tangan) dan aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan dan alih fungsi hutan, pertambangan, pencemaran udara, air, dan tanah dan lain sebagainya.

Allah sudah mewanti wanti dalam sebuah firmannya: Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum/30:41).

Eksistensi dan kontribusi manusia dalam menjaga dan merawat lingkungan adalah sebuah keniscayaan dengan kesiapan sumber daya manusia (human resourch) hingga Rasulullah menitipkan pesan bahwa”Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon.” (HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Meretas kesadaran

Ajakan hidup aman lahir secara primordial Dan menjadi tuntutan bathin yang seharusnya disupport oleh kebiasaan peduli terhadap lingkungan, sehingga tidak perlu lagi ada tulisan ….. “Dilarang membuang sampah, peliharalah kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi” yang terlihat di sekitar kita.
Dibutuhkan Konsistensi dan komitmen manusia dalam memelihara alam itu agar tetap seimbang (al mizan) dan terhindar dari bencana alam.

Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS ar-Rahman [55]: 7-9). Dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud Rasulullah juga menyampaikan “jangan mengotori dan merusak tempat umum atau alam yang dibutuhkan banyak orang, seperti air, udara, dan tanah”

Yang menggelitik baru-baru ini ada berita viral bule membersihkan selokan dari got yang tersumbat dan tidak ada yang membantunya padahal dalm keterangan bule cantik tersebut tidak ada masyarakat yg membantunya padahal tidak jauh dari got ada tempat untuk buang sampah…… Tentu ada gugatan bathin dimana agama yg kita anut (Islam) banyak mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebahagian dari iman. Sampai berita ini diturunkan postingan ini sudah mendapatkan lebih dari 19.700 likes dan 324 komentar.

penulis adalah pustakawan madya IAIN Parepare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *