Anregurutta Ambo Dalle Tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan

Resensi Buku (Bagian 1)

Peresensi Buku : Suherman Syach
Judul Buku : Anregurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis
Penulis Buku : H. M. Nasruddin Anshory Ch.
Penerbit : Tiara Wacana Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 180 halaman

Buku ini termasuk langka. Masih sulit menemukan buku atau pun tulisan yang mengurai secara lengkap sosok, perjalanan dan perjuangan Andregurutta Ambo Dalle. Penulis buku ini, H. M. Nasruddin Anshory Ch., secara runtut mengisahkan sosok Anregurutta Ambo Dalle mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga masa perjuangan, pengabdian dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.

Menurut pengakuan H. M. Nasruddin Anshory Ch dalam catatan pengantarnya, buku ini merupakan hasil riset yang dia lakukan secara langsung kepada Anregurutta Ambo Dalle selama 8 bulan. Pada tahun 1988, penulis tinggal satu atap dengan Anregurutta Ambo Dalle bersama keluarga dan santri-santrinya. Hal ini memungkinkan bahwa fakta-fakta yang tertuang dalam buku ini merupakan penuturan atau perbuatan langsung dari Anregurutta Ambo Dalle. Sehingga bisa disimpulkan bahwa uraian peristiwa dan fakta dalam buku ini sebagai sesuatu yang orginil datang dari Gurutta.

Buku ini dibagi dalam tujuh bagian bahasan. Pada bagian pertama, penulis mengisahkan kelahiran dan masa kecil Ambo Dalle di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo. Desa ini terletak 7 kilometer dari Kota Sengkang, tempat kelahiran Ambo Dalle dari orangtuanya Puang Ngati Daeng Patobo dan Puang Candra Dewi. Orangtua Ambo Dalle salah satu tokoh yang terpandang dan dituakan di kampungnya. Bagian ini juga mengisahkan budaya bugis yang berkembang di kala itu dan situasi peperangan yang sering terjadi dengan penjajah.

Dinamika budaya bugis dan situasi peperang dengan penjajah itulah yang menurut penulis menyertai masa kecil Ambo Dalle. Hidup di tengah masyarakat Bugis yang sangat kental dengan ajaran Islam, membawa Ambo Dalle kecil belajar agama Islam. Mulai dari belajar mengaji, menghafal al-Quran, belajar ilmu nahwu dan syaraf, hingga tafsir al- Quran. Masa remaja Ambo Dalle dihabiskan untuk belajar. Untuk memperluas keilmuannya, Ambo Dalle berangkat ke Makassar dan menimba ilmu di Sekolah Guru Syarikat Islam dan belajar ilmu agama kepada ulama-ulama alumni Mekkah, seperti H. Syamsuddin dan Sayyid Ali al- Ahdal.

Dikisahkan bagaimana Ambo Dalle belajar dan berkolaborasi dengan gurutta H. As’ad di Sengkang. Awalnya Ambo Dalle mustami’ pengajian yang rutin digelar gurutta As’ad. Hingga akhirnya, keduanya menjadi sahabat yang berjuang bersama dalam dakwah Islamiyah. Ketika gurutta H. As’ad mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Ambo Dalle terpilih sebagai salah satu tenaga pendidik utamanya. Kolaborasi gurutta H. As’ad dan gurutta Ambo Dalle yang diceritakan dalam bagian kedua buku ini merupakan cikal bakal pendidikan Islam modern di Sulawesi Selatan. Mereka berdua adalah perintis dan pendiri lembaga pendidikan formal, berupa madrasah pesantren di pedalaman Sulawesi Selatan.

Pada bagian ketiga dari bahasan ini. Penulis memberi judul Merintis Jalan Pembaharuan. Bagian ini mengisahkan pendirian pesantren atau MAI di luar Kabupaten Sengkang, yaitu di daerah Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Sejak berdirinya, MAI Sengkang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Jika awalnya, MAI dipusatkan di rumah gurutta, karena minat masyarakat yang semakin tinggi, maka MAI dipindahkan ke Masjid Raya Sekkang. MAI Sengkang menggaung ke pelosok Sulawesi Selatan. Banyak santri dari berbagai penjuru datang ke Sekkang untuk menuntut ilmu agama. Masyarakat Sulawesi Selatan bergairah untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam melalui madrasah. Sayangnya, gurutta H. As’ad dengan prinsip kehatian-hatianya tidak berkeinginan membuka cabang-cabang MAI di luar Sengkang.

Sesaat Anregurutta Ambo Dalle pulang menunaikan haji pada tahun 1935. Kepala Swapraja Soppeng Riaja mengajukan permohonan untuk mendirikan madrasah MAI di daerahnya dan meminta gurutta Ambo Dalle sebagai pengajar utamanya. Oleh gurutta H. As’ad permintaan ini ditolak dengan alasan, kepergian gurutta Ambo Dalle akan menghambat kemajuan MAI. Tetapi hasrat dan semangat yang kuat dari Petta Soppeng Riaja mendirikan madrasah, akhirnya meluluhkan hati gurutta H. As’ad dan merelakan gurutta Ambo Dalle berpindah ke Soppeng Riaja untuk memimpin MAI di Mangkoso Kabupaten Barru. Anregurutta Ambo Dalle pindah dari Sengkang ke Soppeng Riaja Barru terjadi pada tanggal 21 Desember 1938 bertetapan 29 Syawal 1357 Hijriyah.

Bersambung……….. (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *