Bahas Corak Ritual Tolak Bala, Nurhikmah Raih Gelar Doktor

Bahas Corak Ritual Tolak Bala, Nurhikmah Raih Gelar Doktor

IAIN Parepare— Promosi doktor Nurhikmah, seorang dosen IAIN Parepare sekaligus Ketua Program studi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah ini berhasil mempertahankan disertasinya di depan para promotor, copromotor serta penguji di UIN Alauddin Makassar secara virtual, Rabu (24/02).

Mengangkat judul disertasi Ritual Tolak Bala di Kota Parepare Perspektif Dakwah. Penelitiannya mengeksplorasi tradisi tolak bala di kota Parepare.

“Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan corak kehidupan beragama masyarakat muslim Kota Parepare, model ritual tolak bala, dan perspektif dakwah mengenai ritual tolak bala di Kota Parepare,” terangnya.

Dari hasil penelitiannya, Nurhikmah menjelaskan Pertama, corak kehidupan beragama masyarakat kota Parepare dibedakan atas dua kategori yakni masyarakat muslim tradisional dan moderen. Melalui proses akulturasi dan asimilasi, terdapat relasi antara agama dan budaya pada masyarakat di kota Parepare.

Pada praktek ritual tolak bala terdapat desakralisasi terhadap keshalehan doja. Kedua, model ritual tolak bala melibatkan subjek ritual tolak bala (pabbaca doa tolak bala dan pattola’ bala yang pelaksanaannya setiap malam jum’at sampai pagi hari hingga petang di masjid Taqwa Lakessi dengan simbol-simbol sennu-sennureng seperti kelapa bertunas, pisang, air, kue serta uang sebagai bentuk sedeqah. Ketiga, sisi dakwah terhadap ritual tolak bala di Kota Parepare.

Tolak bala berawal bagian dari metode dakwah dalam penyebaran agama Islam dan sekarang sebagai sarana media dakwah untuk tetap bertaqarrub kepada Allah swt melalui orang shaleh untuk didoakan.

Nurhikmah merupakan anak dari pasangan H. Abdul Majid Beddu dan Hj. Hafisah Salewe. Nurhikmah mengaku saat menyelesaikan program doktornya, ia sempat menemui kendala saat dalam proses penyelesaian.
“Yang sempat menjadi hambatan saya selama studi pada saat kehilangan data. Dijambret tas yang berisikan laptop dan surat penting lainnya sehingga ujian hasil ditunda karena data-data hilang dan memutuskan cuti satu semester,” ungkapnya.

Nurhikmah,juga mengungkapkan S3 (strata tiga) bukanlah akhir belajar. “Selesainya S3 merupakan awal untuk saya belajar bukan berhenti belajar untuk agar menjadi orang yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih dewasa dlm menyikapi setiap persoalan. Semoga anak-anak kami memiliki semangat lebih dalam belajar agama dan ilmu dosial agar berguna untuk agama dan masyarakat serta menjadikan motivasi dalam menuntut ilmu,” tumbuhnya. (hyn/mif)

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *