“Bimsalabim” Distribusi Mata Kuliah dan Kualitas Pembelajaran

“Bimsalabim” Distribusi Mata Kuliah dan Kualitas Pembelajaran

IAIN Parepare — Pendistribusian Mata Kuliah (MK) berpengaruh pada kualitas pembelajaran. Karena itu, sejatinya, prosesnya tidak asal-asalan dan “bimsalabim”.

Pernyataan ini dilontarkan Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Kelembagaan dan Kerjasama (AKKK) Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam (Fakshi) IAIN Parepare, Budiman di sela-sela rehat finalisasi pendistribusan mata kuliah saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/01/2020).

Proses Finalisasi Distribusi mata kuliah dihadiri Dekan Fakshi Hj Rusdaya Basri, Wakil Dekan Bidang AKKK Budiman, Wakil Dekan Bidang AUPK Agus Muchsin, Ketua Prodi HKI Wahidin, Ketua Prodi HES Hj Sunuwati, Ketua Prodi HPI Hj Saidah, dan Ketua Prodi HTN Baduzzaman.

“Pertemuan ini merupakan pertemuan rutin yang dilaksanakan di Fakshi setiap semester untuk memastikan dan meminimalisasi masalah-masalah yang diprediksi terjadi saat mahasiswa melakukan proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di Sisfo Kampus,” ujar Rusdaya Basri, Dekan Fakshi.

Wakil Dekan Bidang AUPK, Agus Muchsin menambahkan pertemuan ini dilaksanakan setelah beberapa kegiatan akademik di semester gasal tuntas dilaksanakan. “Antara lain, penginputan nilai Ujian Akhir Semester (UAS), perubahan nilai berkasus, pelaksanaan ujian skripsi (munaqasyah) dan yudisium,” imbuh Agus Muchsin memberi alasan.

proses pendistribusian mata kuliah di Fakultas Syariah dan Hukum Islam

Ia mengatakan, proses pendistribusian mata kuliah khususnya di Fakshi dilakukan dalam 4 (empat) tahap. Tahap pertama, dekan menyurati para ketua prodi untuk mengadakan pertemuan secara bersama guna menentukan siapa dosen yang mengampu mata kuliah apa. Ini penting dilakukan, kata Agus, agar kualitas pembelajaran di kelas nantinya bisa maksimal sebagaimana yang diharapkan.

Pantauan iainpare.ac.id, dalam pertemuan itu terjadi diskusi dan saling tukar informasi antar-kaprodi terkait rekam jejak kedisiplinan waktu dan kinerja dosen yang mengajar, dan itu dapat diperoleh melalui monitoring Berita Acara Perkuliahan (BAP) dan informasi dari para Ketua Rombongan Belajar (Rombel).

Tahap kedua, hasil distribusi dari para Ketua Prodi lalu diajukan ke Wakil Dekan I untuk diperiksa ulang, meminimalisasi kekeliruan dan sebagai data awal untuk melaporkan ke pimpinan fakultas mengenai kecukupan SDM tenaga pengajar yang dibutuhkan.

Tahap ketiga, pengajuan hasil distribusi matakuliah di level fakultas ke Rapat Koordinasi Wakil Rektor Bidang APK yang biasanya dilaksanakan dua kali dengan pimpinan fakultas (para dekan dan wadek 1) untuk memastikan total SKS ideal yg diampu dosen berdasarkan Keputusan Rektor, terutama para dosen yang diberi tugas tambahan agar memiliki waktu yang cukup untuk memberikan pelayanan akademik dan memikirkan pengembangan dan kualitas lembaga.

Tahap keempat, finalisasi. Konsep manual itu siap didistribusi di sisfo kampus. Proses distribusi mata kuliah di sisfo tidak semudah dan sesederhana yang dipikirkan.

“Ada kendala-kendala dalam proses penginputan dan proses auto roster yang sering terjadi, misalnya ada mata kuliah yang tidak terbaca. Kelas yang tersedia teridentifikasi kurang di sisfo, padahal dihitungan manual masih ada kelas yang tersedia,” ujar Amiruddin, Kasubag Akademik Fakshi.

“Mudah-mudahan kendala-kendala teknis distribusi matakuliah yang cukup menyita waktu ini untuk semester berikutnya sudah dapat diatasi. Apalagi Bapak Rektor, Ahmad Sultra Rustan sangat memiliki kepedulian besar terkait pengembangan teknologi informasi dengan kebijakan-kebijakannya antara lain menghadirkan aplikasi yang lebih komplit dibandingkan sistem yang selama ini kita digunakan. Karena kebutuhan semakin hari semakin bertambah,” harap Wakil Dekan I mengunci pembicaraan. (bud/rush/alf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *