Gus Muwafiq Sebut Gerakan Hizbul Tahrir Tidak Relevan di Indonesia

Gus Muwafiq Sebut Gerakan Hizbul Tahrir Tidak Relevan di Indonesia

Humas IAIN Parepare — Hampir 2 jam KH. Ahmad Muwafiq yang akrab disapa Gus Muwafiq memberi tausiyah kebangsaan di depan ribuan Civitas kampus IAIN Parepare yang memadati gedung Auditorium berkapasitas 2.500 orang, Kamis, 24/10/2019.

Gus Muwafiq yang digelari “Anregurutta” oleh Ahmad S. Rustan, Rektor IAIN Parepare dalam tausiyah kebangsaannya menyampaikan banyak perspektif Islam tentang kebergaman (pluralisme), persamaan kemanusiaan, dan kebangsaan. Menurutnya, Islam memiliki konsep yang komprehensif tentang keberagaman dengan berdalih pada al- Quran.

Misalnya dalam Q. S. al- Hujatan ayat 13: Ya ayyuhan-nasu inna khalaqnakum min zakariw wa unsa wa ja’alnakum syu’ubaw wa qaba’ila lita’arafu. Dalam pandangan Gus Muwafiq, al-Quran sangat detail menjelaskan bagaimana Allah Swt menciptakan manusia dalam keadaan berbeda-beda, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling mencintai. Bukan berbeda untuk saling membenci dan bermusuhan.

Kenapa ayat ini di turun kepada Rasulullah Saw? Itu karena jangkauan Nabi Muhammad dalam menyiarkan agama Islam bukan lagi pada tahap keluarga, suku, dan satu bangsa. Nabi Muhammad memiliki jangkauan menjadi Rahmatan lil Alamin.Ini perbedaan para nabi dengan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad menjadi nabi ketika manusia sudah menjadi bangsa-bangsa, menjadi suku-suku dan itu harus dijangkau semuanya.

Gus Muwafiq menegaskan bahwa Islam berkembang keseluruh negara, termasuk Indonesia berbeda-beda dalam penerimaannya. Keragaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang harus dipertahankan. Hanya di Indonesia sebuah negara yang mampu memikul puluhan bangsa / suku.

“Makanya harus disatukan. Tidak ada lagi raja dan hamba. Yang ada rakyat. Tidak boleh lagi menyebut kafir. Kenapa? karena kafir adalah orang yang menentang Allah dan memusuhi kaum muslimin. Kalau sudah hidup bersama namanya dzimmi. Kalau sudah saling bertanggung jawab namanya raiyyah (rakyat).,” tegasnya.

Maka menurutnya ketika para ulama sudah menyebut kita dengan sebutan rakyat yang tertuang dalam UUD 1945, jangan lagi di turunkan derajat rakyat menjadi derajat kafir. Makanya tidak ada lagi kata kafir di Indonesia karena sudah menjadi raiyyah atau rakyat.

Gus Muwafiq juga menyebutkan cara penanganan masalah di setiap negara pasti berbeda-beda. Gerakan dan konsep Hizbul Tahrir yang gagal di Palestina tidak bisa di bawah ke Indonesia. Begitu pun gerakan Ikhwanul Muslimin yang gagal di Mesir pasti tidak cocok di adopsi dan menjadi jalan keluar permasalahan di Indonesia.

Pesan Gus Muwafiq untuk menjaga Indonesia adalah memelihara persatuan. Indonesia adalah wujud dari sekian perbedaan yang sangat banyak, dan akhirnya menjadi satu yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kebersatuan itu merupakan prestasi yang mungkin tidak semua bangsa bisa mewujudkannya.

Ini bisa dilihat misalnya Arab yang notabene satu bangsa namun kenyataannya terpisah-pisah menjadi puluhan negara. Eropa satu bangsa tapi pada kenyataanya harus pisah mejadi puluhan negara. Tapi Indonesia adalah puluhan bangsa tapi mampu bersatu dalam satu negara kesatuan Republik Indonesia,” paparnya.

Kebersatuan Indonesia mungkin sesuatu yang bisa dianggap sederhana. Persatuan di Indonesia sesungguhnya adalah sebuah slogan yang tidak baru. Bahkan slogan itu sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *