Ibu, Sentral Perlindungan Keluarga di Saat Pandemi

Ibu, Sentral Perlindungan Keluarga di Saat Pandemi

Oleh: Musmulyadi, Dosen IAIN Parepare.
OPINI— Momentum hari ibu yang dirayakan setiap tahun dengan segala kemeriahan untuk penghormatan atas segala jasa ibu ataupun jasa istri yang selama ini merawat keluarga.

Hari Ibu Nasional yang sering dirayakan setiap 22 Desember memiliki latar belakang sejarah panjang dan penuh perjuangan yang diprakarsai oleh para pejuang perempuan waktu itu. Latar belakang sejarahnya yang mengacu pada Kongres I Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 22 Desember 1928, tepat hari ini hari ibu yang ke-92 tahun 2020.

Hakekat Peringatan Hari Ibu setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Segala bentuk kemeriahan dan seremonial perayaan hari ibu tahun sebelumnya akan berbeda halnya dengan peringatan hari ibu tahun ini, jika tahun sebelumnya antusias meramaikannya dengan perlombaan-perlombaan yang bertemakan atau bernuansa ibu seperti; lomba masak, paduan suara, dan masih banyak lagi lainnya.

Perayaan hari ibu kali ini cukup berbeda, apalagi di tengah masa pandemi, Pada hari ini orang-orang terdorong untuk mengekspresikan rasa cinta di momen yang lebih spesial. Namun, tidak cukup hanya satu hari perayaan untuk benar-benar membayar jasanya dan juga menghormati para ibu.

Peran ibu semakin tampak di masa pandemi ini dalam memahami peran seorang Ibu, disadari betapa perjuangan seorang Ibu itu teramat berat. Mari disimak, bahwa peran sorang Ibu itu pada dasarnya identik dengan pekerjaan atau profesi yang sulit, bahkan sangat sulit. Peran, yang secara konkret terwujud dalam pekerjaan seorang Ibu, merupakan pekerjaan penuh waktu. Bekerjanya tiada henti itu dimulai dari ketika anak bangun tidur sampai anak itu tertidur lagi, bahkan ketika anak tertidur pun tugas seorang ibu belum selesai. Ia harus mengurus rumah dan segala sesuatu yang diperlukan oleh laki-laki sebagai seorang suami. Sekali lagi, pekerjaan itu dilakukan terus menerus selama bertahun tahun, sampai anak itu mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.

Untuk itu semua, sekadar sehari mengenangnya, merupakan kewajiban bagi kita semuanya. Inilah perspektif dari Hari Ibu. Kita ucapkan, selamat Hari Ibu yang ditujukan kepada Ibu terkasih, yang kasihnya tak terukur.
Para ibu harus paham kembali betapa besarnya peran dan tanggung jawabnya bagi pembentukan generasi. Agar kembalinya ibu di rumah tidak diisi dengan aktivitas mengalir begitu saja tanpa berkontribusi positif bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas

Dijelaskan bahwa tidak ada kemuliaan terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447).

Demikianlah peran mulia seorang Ibu apalagi di tengah pandemi sekarang ini tampak jelas perannya, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik, saleh dan salihah yang setiap aktivitasnya dilandasi atas iman dan semata-mata mencari ridho Allah SWT. Karena anak-anaknyalah yang menjadi sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *