Kontroversi “Simbol Dajjal” di Masjid al-Syafar, Dosen IAIN Parepare Bela Ridwan Kamil

Kontroversi “Simbol Dajjal” di Masjid al-Syafar, Dosen IAIN Parepare Bela Ridwan Kamil

Humas IAIN Parepare — Beberapa minggu terakhir, nitizen dikagetkan dengan munculnya tuduhan bahwa desain masjid al-Syafar menyerupai simbol dajjal. Masjid yang terletak di Rest Area KM 88 Jalan Tol Cipulareng kota Bandung merupakan masjid yang didirikan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Tuduhan ini dilontarkan oleh ustas Rahmat Baequni melalui videonya yang viral di youtube.

Video yang telah dinonton ratusan ribu kali ini mengundang kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Kontroversi ini mengalami eskalasi yang tinggi karena melibat dua figur publik, yaitu Rahmat Baequni, salah seorang tokoh agama di Jawa Barat yang memiliki cukup banyak jamaah dan pihak lain, ada Ridwal Kamil selaku arsitektur masjid al-Syafar, yang juga Gubernur Jawa Barat. Dalam waktu yang singkat, isu ini telah tersebar ke seluruh pelosok nusantara.

Untuk mencegah polemik berkepanjangan, pengurus MUI Jawa Barat telah memfasilitasi dialog antara Ridwan Kamil dengan ustas Rahmat Baequbi, Senin, 10 Juni yang lalu. Seperti yang dikutip dari media online Kumparan.com, Kang Emil – sapaan akrab Ridwan Kamil – memberikan klarifikasi terkait desain dan arsitektur masjid al-Syafar.

“Saya meminta masyarakat untuk berpikir positif bahwa masjid adalah tempat ibadah dan tak terpengaruh dengan berbagai bentuk bangunan. Saya meyakini kalau iman kita kuat mau kita melihat apapun geometri, dan visual tidak mengubah iman kita.” Emil kemudian mencontohkan beberapa masjid yang mengandung bentuk segitiga dan lingkaran. Misalnya Masjid Trans Studio Bandung yang terdapat bentuk segitiga dengan lingkaran di tengah atau disebut mata satu.Bila simbol segitiga dan lingkaran dilarang,

Emil menyebut, simbol berupa bulan sabit yang digunakan sebagai lambang Pancasila dan logo organisasi FPI pun mesti dilarang. “Kalau lingkaran segitiga enggak boleh maka kita harus konsisten bintang lima juga dilarang, apa yang terjadi? Maka semua lambang yang ada masjid dan bulan sabit maka harus dilarang. Berarti lambang Pancasila dilarang, lambang FPI dilarang itu kalau konsisten bentuk itu dilarang,” kata Emil.

Emil juga mencontohkan Masjid Nabawi hingga Masjid Raya Jakarta yang mengandung bentuk segitiga dan lingkaran. Dia meminta keadilan agar masyarakat menilai sama masjid karyanya dengan masjid-masjid lainnya.”Masjid Nabawi dan Masjid Raya Jakarta, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsitekturnya bukan (karya) Ridwan Kamil jadi tidak ramai, tidak picemooheun,” imbuh dia.

Menanggapi hal tersebut, Dr. H. Muhiddin Bakry, Lc.,M.Fil.I., salah seorang dosen IAIN Parepare memberi pembelaan kepada Ridwal Kamil. Menurut Alumni Universitas al-Azhar Kairo ini, tuduhan yang dialamatkan kepada karya Ridwan Kamil tersebut sangat berlebihan dan hanya didasarkan pada asumsi-asumsi saja.

Klarifikasi yang disampaikan Kang Emil, dinilai Muhiddin lebih rasional dan akademis. Bahkan Ketua Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah ini mengsinyalir jika tuduhan yang dilontarkan ustas Rahmat Baequni masih dilatari politik (pilpres). Menurutnya, pasca pilpres muncul gerakan penggalangan wacana dari kelompok-kelompok ektrimis.

“Eksistensi idiologi-idiologi yang mengarah kepada interpertasi teks secara tekstualis akan terus menggalakkan wacana kontroversial untuk mendapatkan dukungan guna mempertahankan eksistensi dan legalistas mereka di NKRI,” papar Muhiddin. “Semestinya, simbol-simbol Ilahiyah berupa kebersamaan dan persatuan itulah yang harus diaktualisasikan dan dibumikan. Jangan justru yang bertentangan nilai-nilai Ilahiyah seperti perpecahan dan disintegrasi yang terus dikembangang di masyarakat,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *