Mattale’ Kitta’, IPN PRESS  Bedah Buku Dakwah Inklusif

Mattale’ Kitta’, IPN PRESS Bedah Buku Dakwah Inklusif

IAIN Parepare— IPN Press atau IAIN Parepare Nusantara Press  mengadakan Webinar Bedah Buku dengan tema “Mattale’ Kitta‘ ” Dakwah Inklusif Konseptualisasi dan Aplikasi, Rabu (17/6/2020).

Penulis Dr. Iskandar, M.Sos.I.  mengawali riset disertasi  sejak tahun 2017 hingga Februari 2019  menekankan Dakwah Inklusif dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 159. Penulis buku memaparkan bahwa dalam perjalanannya dakwah mengalami persoalan, dan inilah muhasabah penekanan dakwah inklusif.

Pada pengantar kegiatan tersebut Dr. Ali Rusdi Bedong, selaku Kepala Pusat (Kapus) Penerbitan dan Publikasi IAIN Parepare menjelaskan kata “mattale’ kitta” ini diangkat sebagai syarat akan makna filosofis kultur/budaya yang merupakan lokal wisdom pada masyarakat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat, yang berarti pengajian, kajian dan diskusi kitab kuning. “Sekiranya mampu memberi nuansa dan semangat dalam karya-karya buku di lingkungan IAIN Parepare, tidak hanya selesai dalam sebuah karya namun juga bisa untuk dikaji, dipersentasikan sebagaimana kegiatan pengajian kitab kuning. Selanjutnya, mengapa memilih buku Dr. Iskandar karena merespon cita-cita dan narasi besar Kementerian Agama dalam mengembangkan isu moderasi beragama yang dekat akan paradigma dakwah inklusif,” ungkapnya.  

Dr.  Ali Rusdi Bedong menyampaikan bahwa telah terbit 78 buku dosen dan mahasiswa pada IPN Press IAIN Parepare, sekaligus mengajak kepada seluruh civitas IAIN Parepare juga alumni untuk mencetak karya sekaligus mendapat ISBN secara gratis.

Melanjutkan bedah buku, Dr. Iskandar, ia menggambarkan secara umum buku 192 halaman  dan 8 bab dari hasil disertasi ini dengan membandingkan kata ekslusif yang kaku, susah dalam mendialogkan persoalan kehidupan, menganggap diri paling benar. Sehingga inklusif hadir menjadi alternatif dan jalan sebagai lawan dari kata ekslusif itu sendiri. Di mana Dakwah Inklusif merupakan wajah Islam wasatiyah sebagai bagian dari agama.

Terkhusus bagi seorang dai memahami perbedaan dan keyakinan. Sikap pembenaran paling benar sendiri. Sehingga dai dengan dakwah Inklusif mampu melaksanakan tatanan sosial yang juga merupakan esensi dari dakwah itu sendiri di dalam mewujudkan masyarakat yang rahmat bagi semesta alam. Dengan menggambarkan kondisi Parepare, di dalam mesjid-mesjid yang didasarkan kelompok-kelompok dari suatu lembaga saja. “Sehingga apabila adanya bencana mengalami keterlambatan dalam merespons atau membantu masyarakat yang tertimpa musibah dikarenakan harus melihat teman ataukah satu kelompok dengannya,” ujarnya.

Sehingga dakwah inklusif merupakan alternatif di dalam mencapai kesatuan dalam masyarakat bahkan bangsa dan negara. Penelitian ini didukung oleh sejumlah responden terkhusus para Dai, baik yang diperoleh secara langsung ataupun melalui media online berupa email atau whatsApp dalam mempertanyakan esensi pentingnya dakwah inklusif.

Hadir sebagai host pada kegiatan, Muhammad Haramain, M.Sos.I juga mengapresiasi LP2M IAIN Parepare, terkhusus IPN Pess, karena kegiatan perdana bedah buku ini memberi ruang kepada dosen di lingkungan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare.

Hadir selaku pembedah I Dr. Ramli, S.Ag., M.Sos.I menjelaskan dakwah insklusif dengan istilah pluralisme, majemuk, Islam nusantara, Islam moderisme, namun dalam dakwah inklusif tidak bisa dipungkiri akan berhadapan dengan kelompoknya paling benar (atau dalam berdakwah hanya kelompoknya yang ingin didengar). “Di sinilah peran dari dakwah inklusif yang ingin mempertemukan perbedaan tersebut. Belum lagi dalam perkembangan moderasi beragama yang perlu dipahami bukan hanya menuntut mad’u yang moderat, namun juga Dainya, begitupun sebaliknya. Apalagi ketika kita mendekatkannya pada kultur budaya misalnya yang ada di Sulawesi, terkhusus Parepare. Perlu dipahami bagaimana masyarakat itu memahami Islam itu sendiri, berperilaku, serta melaksanakannya. Semoga dakwah inklusif ini mampu dilaksanakan di Parepare, kemudian bisa dikembangkan dalam mengikuti zaman untuk tatanan bangsa dan negara kita ini,” tutur Dr. Ramli.

Dr. Qadaruddin, M.Sos.I selaku pembedah  kedua memulai argumentasi berupa dengan membagi dai dan Muballliq. dalam kajian dakwah muballiq belum dikenal oleh masyarakat umum, sedangkan yang pada esensinya untuk mencapai tingkatan dai mengikuti proses perjalanan dakwah. Sehingga dai itu tidaklah mudah.

Selain itu, pembahasan dakwah inklusif, perlu kosistensi ke depannya dengan memperjelas definisi terkait inklusif, plural, moderat, liberal, sekuler. Tidak lupa, Dr. Qadaruddin memberi gambaran pada tipologi masyarakat Parepare.

“Inklusif itu sudah terdapat pada Surat Al Fatihah, jadi tidak hanya pada pembukaan surat di Alquran tapi juga sudah merupakan bagian dari inklusifisme itu sendiri,” ujar Budiman, Wakil Dekan I Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam yang turut berpartisipasi dalam Webinar ini. Selanjutnya, ia  mengutip tulisan M. Quraish Shihab, dua tujuan dakwah yaitu memberi pemahaman kepada mad’u, dan menyadarkan para mad’u.

Di akhir sesi, Dr. Iskandar memberi ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi kepada kegitan bedah buku dan mengapresiasi pembedah buku sebagai rujukan akan menyempurnakan buku yang ditulisnya.

Penulis: Afi, rush

Editor: Mifda Hilmiyah

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *