Ratih Rahim ber IPK 3.99, Sabar Kunci Keberhasilan

Ratih Rahim ber IPK 3.99, Sabar Kunci Keberhasilan

Sosok Inspirasi — Tumbuh menjadi anak tunggal, Ratih paham akan impian sang ibu. Tak ada permata selain dirinya. Usianya yang masih remaja, ia harus belajar akan kerasnya hidup. Semuanya berubah, dulu masih ada sang ayah, si punggung keluarga.

Walaupun, sebelum ayahnya pergi, ia sering ditingal sang ayah untuk berlayar. Menjadi putri dari seorang pelaut, melatihnya untuk merindu setiap saat. Menantikan kedatangan sang dermaga dari laut lepas, dengan senyuman yang menghiasi tubuhnya. Kini, rasanya berbeda, tak ada lagi masa itu.

Kini, Ratih Rahim tumbuh dengan pribadi dewasa. Ia menempuh jenjang perguruan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Kejadian masa lampau membuatnya paham akan hidup. Doa dan restu dari sang ibu membuatnya berhasil berada pada titik ini. Sabar, petuah sang ibu yang ia tanamkan dalam hati.

“Jadi intinya saya yang paling diajarkan sama mama saya itu, degage cau i sabbara e nak, intinya harus ki memang sabar. Karena apapun itu pasti ada balasannya oleh Allah,” katanya saat ditemui di Sekretariat DEMA Fakultas Tarbiyah, Rabu  (11/3/20).

Mata mulai memerah, pelupuk mata mulai basah, sesekali menunduk, sembari bercerita. Meski  ruangan dingin sebab adanya pendingin. Tak jarang, demi mencairkan suasana, sesekali ia tersenyum. Hanya saja, tatapannya takkan pernah bisu. Terenyuh atas setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Suara penuh tanda keyakinan, perempuan dua puluh tiga tahun itu menyeru akan kebanggaan pada sosok separuh nafasnya. Membesarkan anak seorang diri, berbekal sebuah kios barang campuran, ia mampu mendidik seorang putri berhati baja. Tanpa ada sedikit pun rasa benci yang membelenggu terhadap ‘sang dermaga’ yang memilih untuk mundur.

“Alhamdulillah selesai maki kuliah nak. Alhamdulillah bisa jaka biayai ki, seperti itu jadi saya merasa hebat sekali ka punya mama seperti itu. Mungkin bagi orang lain toh biasa-biasa, tapi perjuangannya mamaku dari nol,” ujarnya menirukan ucapan ibunya.

Percaya akan kehendak Sang Pencipta akan skenario untuknya. Takkan goyah, meski di depan sana akan ada tanjakan, bebatuan, berduri, yang siap mengoyak keyakinan kapan saja. Memang, duka akan berbarengan dengan suka. Tangis akan bersahabat dengan tawa. Takkan ada ceria tanpa ada derita. Takkan ada bahagia tanpa ada sakit.

“Pokoknya kalau percaya ki sama Allah pasti ki itu dikasi yang terbaik. Karena apapun yang diambil itu pasti akan digantikan dengan yang lebih baik. Terapkan saja itu harus ki selalu sabar, apapun masalah ta, sebesar apapun,  jangan ki goyah. Tidak bisaki juga putar waktu, tidak bisaki ubah waktu untuk kembali ke masa lalu, tidak bisa. Jadi terima apa adanya pasti Allah akan kasi yang lebih baik,” tambahnya.

Sabarnya berbuah manis. Senyumnya penuh berkah. Dendam takkan pernah berujung sentosa. Ratih berhasil, gelar sarjana ada dipundaknya. Predikat cumlaude dengan Indeks Predikat Komulatif (IPK) yang nyaris sempurna, 3,99 tak membuatnya berbangga diri. Mungkin, ini hanya sekadar angka, tapi ada rona bahagia untuk perjuangan sang purnama. Bakti tiada tara, perempuan bestari ini persembahkan untuk ibunya.

Penulis: Nurlela (Mahasiswi Program studi Jurnalistik Islam)

Editor: Mifda Hilmiyah

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *