Riset Bereputasi Bi Ghairi Hisâb

Riset Bereputasi Bi Ghairi Hisâb

oleh: Budiman Sulaeman (Dosen IAIN Parepare)

OPINI—- Ilmuan melalui jalur teori dan penalaran ilmiah saat meriset, meneliti atau saat mengobservasi “sesuatu” di semesta ini merupakan jalan menemui Tuhan. Jalan itu bisa disebut, meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla, sebagai jalan “memikirkan Tuhan” yang berbeda secara mendasar dengan jalan “merasakan Tuhan”.

Dalam pandangan penulis, antara “jalur rasa” dan “jalur rasio” tidak sama kualitas dan peringkatnya. Yang pertama memudahkan ‘peneliti’ menjadikan Tuhan sebagai informan langsung, bukan melalui ‘situs-situs’-Nya  yang bertebaran di semesta yang bagi ‘awwâm (baca: orang pada umumnya) dimanfaatkan melalui jalur kedua, rasio. Dalam tubuh manusia terdapat perangkat suci dan peka terhadap problematika hidup yang ada di sekitar manusia. Perangkat lunak itu adalah kalbu atau hati nurani yang apabila terbuka akan selalu merasakan kedekatan, keagungan, kehebatan, dan keperkasaan Allah.  

Pada jalur rasio, kegiatan penelitian idealnya tidak berorientasi pada hasil yang bersifat pragmatis semata. Penelitian yang targetnya hanya ingin mendulang “koin” dan membidik “kum”. Pragmatisme dalam penelitian semacam ini hanya akan menghasilkan tumpukan kertas yang tidak berguna, tidak bermanfaat dan tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Penelitian semacam ini hanya menjadi ‘penelitian asumtif’. Penelitian yang rampung hanya di belakang meja. Penelitian yang tidak mampu mendekatkan jarak manusia dengan Tuhannya.

Kedua jalur itu, sejatinya, memiliki tujuan suci nan mulia: menghasilkan ilmuan bijak dan professor kebajikan yang terus menjaga dan merawat peradaban manusia dan kemanusiaan; menghasilkan peneliti yang telah mencapai puncak pohon wisdom (kebijaksanaan). Peneliti yang telah selesai dengan dirinya. Peneliti yang telah bersemayam dalam dirinya sifat-sifat ketuhanan bahkan lebih daripada itu, peneliti yang Tuhan pun telah ‘bersemayam’ dalam dirinya. Mengapa? Karena hasil-hasil penelitiannya tidak saja mampu menembus jurnal ilmiah internasional bereputasi dan terindeks DOAJ, Scopus, Thomson, Elsevier, SAGE, OXFORD, dan semacamnya, tapi juga telah terkonfirmasi dan terindeksasi di lawh mahfûzh.

Jalur rasa dan jalur rasio keduanya merupakan anugerah Allah. Karenanya mengabaikan salah satunya adalah sebuah tindakan konyol. Memang, merekam sebuah kejadian atau peristiwa kehidupan tidak cukup hanya mengandalkan akal pikiran (rasio) yang bersifat indrawi, tetapi butuh alat bantu lain yang bersifat nonindrawi, yaitu hati nurani (rasa) yang merupakan inti dari kemanusiaan. Kehilangan rasa berarti alamat kehilangan kemanusiaan. Bagaimana mungkin manusia akan merawat peradaban manusia dan kemanusiaan jika ia sendiri yang kehilangan kemanusiaannya.

Pada akhirnya, congratulations kepada seluruh peneliti di level, jenis dan kategori apapun yang telah merasakan kebermanfaatan hasil jerih payah dari kegiatan penelitian yang dilakukan. Mudah-mudahan bayang-bayang auditor laporan hasil penelitian yang selama ini menjadi momok bagi peneliti dengan temuan dan konsekuensi pengembalian anggaran dapat ditepikan agar penelitian yang dihasilkan berkualitas, berdaya saing tinggi dan dapat menjadi jalur cepat serta titian emas untuk semakin dekat dan menemui Tuhan, karena riset yang dihasilkan bereputasi bi ghairi hisâb. Wallâhu a’lam.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *