Seleksi Calon Penerima KIP Kuliah Memasuki Tahapan Survey

Seleksi Calon Penerima KIP Kuliah Memasuki Tahapan Survey

Humas IAIN Parepare — Tiga minggu terakhir ini, pengelola beasiswa KIP Kuliah IAIN Parepare bergiat menyeleksi mahasiswa calon penerima KIP Kuliah. Dua tahap telah dilewati, yaitu seleksi administrasi dan wawancara langsung kepada calon penerima. Tahap selanjutnya yaitu survey ke rumah calon penerima yang dimulai hari ini, Sabtu, 21/11/2020.

Pada tahapan survey ini, ada 6 tim yang diturunkan melakukan survey. Tim 1 dipimpin oleh Sitti Jamilah Amin (Wakil Rektor 1) menyasar daerah kabupaten Wajo dan kabupaten Soppeng. Tim 2 dipimpin H. Sudirman L., (Wakil Rektor 2) melakukan survey ke kabupaten Sidrap. Wakil Rektor 3, H. Muhammad Saleh memimpin Tim 3 dengan menyasar kabupaten Enrekang. Tim 4 dipimpin Iskandar (Wakil Dekan FUAD) melakukan survey ke kabupaten Pinrang bagian utara. Sementara Wakil Dekan 1 Faktar, Dahlan memimpin tim 5 ke kabupaten Barru. Sementara tim 6 dipimpin Sunandar (Kasubbag Admnistrasi Akademik) menyasar kabupaten Pinrang dan kota Parepare.


Mekanisme survey ini bertujuan untuk memverifikasi dan memastikan kesesuaian data faktual dengan data dokumen yang distor ke tim dan informasi yang diperoleh dari calon penerima pada saat wawancara. “Jika ada ketidaksesuaian fakta dengan dokumen dan pengakuan calon penerima, maka skoring penilaian akan dikurangi. Misalnya, foto rumah yang dikirim berbeda dengan keadaan rumah yang sebenarnya pada saat disurvey,” kata Sunandar, tim pengelola KIP Kuliah saat dihubungi. “Intinya, survey ini memperdalam informasi dan data calon penerima, apakah layak atau tidak layak memperoleh KIP Kuliah,” tambahnya.


Sitti Jamilah Amin yang bertugas ke kabupaten Wajo dan kabupaten Soppeng menyampaikan bahwa survey ini yang dilakukannya bersama tim cukup sulit. Khususnya dalam mencari dan menemukan rumah tempat tinggal calon penerima. “Kami dibekali data, tetapi kami kesulitan mencari rumah tempat tinggal mereka karena alamat yang tertera dalam dokumen hanya menyebut nama desa, sementara desanya cukup luas. Nama juga seringkali tidak dikenali karena nama di kampung berbeda dengan nama di identitas. Belum lagi, nomor telpon yang diberikan kepada pengelola KIP Kuliah sulit dihubungi karena jaringan yang kurang bagus dan banyak yang tidak aktif,” paparnya saat ditemui, sepulang dari lokasi survey.


Ditanya mengenai hasil surveynya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan ini menuturkan bahwa tidak semua calon penerima dapat disurvey. Selain keterbatasan waktu, sebaran lokasi tempat tinggal calon penerima juga berjauhan dan bahkan ada yang sulit dijangkau dengan kendaraan. “Meski demikian, kami tetap berusaha menghubungi mereka melalui video call untuk memperoleh data-data faktual mereka,” ungkapnya.


“Terkait dengan hasil survey, kami menemukan beberapa fakta yang berbeda di lapangan. Misalnya dalam dokumen melampirkan surat keterangan tidak mampu atau kartu KIP /PKH, tetapi fakta dilapangan menunjukkan rumah yang bersangkutan cukup bagus, orangtua berpenghasilan cukup tinggi, memiliki sawah yang luas, dan lain-lain,” paparnya. “Hasil survey ini, sudah kami rekam dan selanjutnya kami akan membuatkan laporan dan menyerahkannya kepada pengelola KIP Kuliah sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan, siapa yang berhak menerima beasiswa KIP Kuliah,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *