Tausyiah Ramadhan; Rahasia Dibalik Terkabulnya Doa Sang Raja

Tausyiah Ramadhan; Rahasia Dibalik Terkabulnya Doa Sang Raja

Humas IAIN Parepare — Pada hari keempat Tausyiah Ramadhan pada acara meeting harian ASN IAIN Parepare, Hj. Sitti Marhamah mendapat giliran sebagai moderator dan ustas Sufyaldi sebagai pembawah tausyiah, Kamis, 30/4/2020.

Dipersilahkan membawakan tausyiah Ramadhan oleh moderator, Kepala TIPD IAIN Parepare ini langsung mengklarifikasi diri di depan jamaah bahwa dirinya belum layak membawakan tausyiah Ramadhan. “Saya mohon ijin kepada semua yang hadir, sebenarnya saya belum layak membawakan tausyiah. Karena saya ini bukan santri, bukan pula alumni pesantren. Bahkan pesantren kilat pun tidak selesai,” katanya mengawali tausyiahnya.

Hj. Sitti Marhamah bertindak sebagai moderator mendampingi ustas Sufyaldi sebagai pembawa Tausyiah Ramadhan

Meski pun demikian, Sufyaldi pun memulai tausyiahnya dengan sebuah kisah menarik. Ahli IT IAIN Parepare yang sudah meraih profesi sebagai Insinyur ini mengutip kisah dari sebuah hadist qudsi yang sangat inspiratif.

“Dahulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya hanya berbuat maksiat dan dzalim. Kemudian dia jatuh sakit. Sakit raja sangat keras. Para tabib dari penjuru negeri dikerahkan tapi semuanya menyerah. Raja tidak bisa disembuhkan kecuali dengan sejenis ikan. Tapi sayangnya, saat itu bukan musimnya ikan itu muncul dipermukaan. Lalu berdoalah sang raja. Tuhan mendengar itu dan memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul di permukaan laut. Singkat cerita akhirnya raja akhirnya dapat memakan ikan itu. Dia sembuh seperti sedia kala.”

“Pada saat yang sama di negeri lainnya, ada seorang raja yang adil dan shaleh, jatuh sakit. Para tabib menyatakan hal yang sama, bahwa obatnya adalah ikan yang sama. Tabib pun optimis raja akan sembuh karena saat ini lagi musim ikan. Namun Tuhan berkehendak lain, Dia memerintahkan malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu bersembunyi. Akhir cerita sang raja yang adil dan shaleh itu tidak dapat diobati dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.”

Saat itu, lanjut Sufyaldi, para malaikat kebingungan. Mengapa doa raja yang adil dan slaleh tidak dikabulkan sementara doa raja yang dzalim dikabulkan?

Kemudian Tuhan pun berfirman, “Walaupun Raja itu dzalim dan banyak berbuat dosa, tapi dia pernah juga berbuat baik. Demi kasih sayang-Ku, Aku berikan balasan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum aku balas. Maka aku segerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya”. Artinya sudah tidak ada lagi amal shalehnya yang harus dibalas Tuhan di akhirat nanti.

“Demikian juga dengan raja yang adil dan shaleh itu. Walaupun dia banyak berbuat baik, tapi dia pernah juga berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya, masih ada dosanya yang belum Aku balas. Maka, Aku tolak doanya untuk mendapatkan kesembuhan, supaya bila dia datang kepada-Ku, dia hanya membawa amal shalehnya”. Artinya sudah tidak ada lagi dosanya yang harus dibalas Tuhan.

Hikmah yang harus diambil dari kisah tersebut, menurut Sufyaldi, jangan pernah berprasangka buruk terhadap setiap doa yang belum terkabulkan. Karna apa pun yang diberikan Allah Swt merupakan hal terbaik yang harus disyukuri apapun adanya. Pasti ada rahasia dibalik terkabul tidaknya doa-doa kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *