Tingkatkan Nilai Tawar Program Studi Ilmu-ilmu Adab dan Humaniora

Humas IAIN Parepare — Dosen ilmu-ilmu adab dan humaniora Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se- Indonesia berkumpul selama 2 hari, yaitu 13 s.d. 14 Februari 2020 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mereka sedang mengikuti Workshop Pengembangan Kelembagaan dan Keilmuan Humaniora di era 4.0.

Kegiatan ini diinisiasi dan diselenggarakan tiga lembaga sekaligus, yaitu Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) se- Indonesia, Fakultas Adab dan Humanioran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Asosiasi Program Studi Sejarah Islam Indonesia (APSII). Jumlah perserta yang diundang terbatas, hanya berkisar 50 orang dari seluruh Indonesia.

A. Nurkidam, Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam IAIN Parepare sekaligus Pengurus Pusat APSII periode 2019-2021 yang menghadiri kegiatan tersebut, Kamis, 13/2/2019 ketika dikonfirmasi melalui whatshapp menyatakan bahwa workshop tersebut merupakan upaya meningkatkan nilai tawar ilmu-ilmu Adab dan Humaniora di era 4.0.

Banyaknya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) bertransformasi menjadi Universitas (UIN) melahirkan tantangan baru bagi fakultas ilmu-ilmu Adab dan Humaniora. Ada fenomena menurunnya nilai dan daya tawar ilmu Adab dan Humaniora di masyarakat. Kehadiran ilmu-ilmu umum di PTKIN dianggap lebih menjanjikan dan prospek dibanding ilmu Adab dan Humaniora oleh masyarakat.

Seperti paper yang dikirim A. Nurkidam kepada kami. Workshop ini membahas upaya peningkatan positioning dan daya tawar Fakultas Adab dan Humaniora dalam menghadapi tumbuh dan berkembangnya fakultas-fakultas umum yang dianggap lebih menjanjikan bagi karir akademik dan pekerjaan para calon mahasiswa.

“Untuk menghadapi tantangan tersebut, serta untuk mempertahankan tugas akademiknya dalam mengembangkan kajian-kajian ilmu Islam dan Humaniora, maka Fakultas Adab dan Humaniora harus memiliki “merek dagang” sendiri yang khas dan berdaya jual tinggi, serta tidak dimiliki oleh bidang keilmuan lain. Selain itu, perangkat teknologi dan system informasi hendaknya dapat diantisipasi agar menjadi sumber daya dan media pendukung bagi proses pembelajaran,” tulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *