Untuk Anak-Anak Ideologisku

Untuk Anak-Anak Ideologisku


oleh: Budiman (Dosen IAIN Parepare)

Opini— Di tengah situasi yang tidak mudah, sadar atau tidak, senang atau tidak, suka atau tidak, kita digiring untuk lebih mendalam merenungi kehidupan, khususnya kehidupan kampus dengan core business utamanya: pendidikan, tetiba teringat 2 qawl (adagium, pepatah) ahli hikmah:

الجد بالجد والحرمان بالكسل فانصب تصب عن قريب غاية الأمل
(Al-Jaddu bil jiddi wal hirmaanu bil kasali, fanshab tusib ‘an qoriibin ghaayatal amali).

Artinya: “Keberhasilan (kesuksesan) akan diperoleh dengan adanya kesungguhan. Kegagalan terjadi sebagai akibat dari kemalasan. Bangkitlah segera, bersungguh-sungguhlah, Anda akan mendapatkan segera apa yang anda cita-citakan.

ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها إن السفينة لا تجري على اليبس
(Tarjunnajaata wa lam tasluk masaalikahaa, innas safiinata laa tajrii ‘alal yabasi).

Artinya: “Engkau mendambakan (menghasrati) keberhasilan (kesusksesan), tetapi tidak mau menempuh jalan-jalan menuju keberhasilan itu. Sesungguhnya kapal laut tidak akan berlayar di tempat yang kering (di daratan)”.

Begitu kira-kira terjemahan merdekanya, sebagaimana kampus merdeka yang diperkenalkan Mas Menteri, Nadiem Makarim.

Inti adagium itu kira-kira begini: Dalam rangka mencapai “najaah” dan “najaat” (keberhasilan yang didahului sekian banyak rintangan dan pengorbanan) mesti berbekal banyak cara, metode dan trik atau kunci yang disebut “masaalik“, bentuk plural dari kata “maslak“, yang dapat dimaknai “jalan terjal, berliku dan penuh onak duri”.

Itu sebabnya, seorang pencari ilmu disebut “saalik“: penelusur jalan terjal, berliku dan penuh onak duri. Ini sungguh sangat riskan.

Karena itu, ia mesti memiliki metode dan metodologi. Bahkan Nabi Mulia membesarkan nyali para pencari ilmu itu dengan sebuah “great motivation” agar ia tetap tegar menjalaninya. Antara lain hadis berikut:

عن أبى هريرة: …ومن سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Narasi “Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” memiliki 4 makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali:

Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga.

Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga.

Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga.

Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga).

Pada akhirnya, pengorbanan, penderitaan dan perjuangan berdarah-darah dlm proses “searching ilmu” itu sesungguhnya bin sejatinya merupakan “toll by pass” menuju surga (kenikmatan tiada tara).

Alaa kulli haal, tiba-tiba teringat wasiat Ayahanda: “Nak…!!! Manrasa-rasa mEEmeppi’ mantuntu’ paddisseengeng” dan “Yagguru mEEmappa anrasa-rasangngE, Nak”.

Tabe’ taddampeengekka’ maraaja…. Dua pesan Ayahanda ini tidak mampu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena ada kesulitan tersendiri mencari padanan katanya.

Sukses buat anak-anak ideologisku dalam menggenggam cita-cita besar kalian. Semoga kita bersua di surga-Nya in sya Allah karena keberkahan ilmu dan atas keridhaan Allah Yang Maha Pengasih tak pilih kasih.

Salaamakki’ to pada salaama’

Parepare#stayathome, 29 Maret 2020.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *