Skip ke Konten

Menjaga Warisan Lipa Sabbe', Posko 45 KKN IAIN Parepare Belajar dari Penenun

16 Juli, 2026 oleh
Menjaga Warisan Lipa Sabbe', Posko 45 KKN IAIN Parepare Belajar dari Penenun
Humas IAIN Parepare
| Seri 31

Humas IAIN Parepare - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Posko 45 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare melaksanakan observasi ke rumah perajin sarung tenun sutra (lipa sabbe') di Desa Lamiku, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya Bugis yang hingga kini masih lestari sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Observasi dilakukan dengan mengunjungi para perajin tenun dan berdialog secara langsung mengenai proses pembuatan lipa sabbe', mulai dari pemilihan bahan baku, proses menenun, hingga pemasaran hasil produksi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa keterampilan menenun bukan hanya menjadi identitas budaya masyarakat Lamiku, tetapi juga menjadi sektor ekonomi yang menopang kehidupan banyak keluarga.

Salah seorang perajin, Enna, menjelaskan bahwa tradisi menenun telah diwariskan secara turun-temurun dan umumnya ditekuni oleh perempuan di Desa Lamiku. Menurutnya, keterampilan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu.

"Menenun sarung merupakan budaya yang sudah ada sejak dahulu. Hampir sebagian besar perempuan di Desa Lamiku memanfaatkan waktu luang mereka untuk memproduksi sarung tenun. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menjadi mata pencaharian yang diwariskan dari generasi ke generasi," ungkap Enna.

Ia juga menjelaskan bahwa harga lipa sabbe' sangat bergantung pada jenis bahan baku, tingkat kesulitan motif, serta kualitas hasil tenunan. Produk yang dihasilkan dipasarkan melalui kerja sama dengan sejumlah toko di Pasar Sentral Sengkang dan dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Enna menambahkan bahwa proses pembuatan satu lembar sarung tenun membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Dalam kondisi tertentu, satu sarung dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu, namun untuk motif yang lebih rumit dapat memerlukan waktu hingga satu bulan.

Melalui kegiatan observasi ini, Mahasiswa KKN Reguler Posko 45 IAIN Parepare tidak hanya memperoleh wawasan mengenai proses produksi lipa sabbe', tetapi juga memahami nilai budaya, ekonomi, dan sejarah yang melekat pada setiap helai tenun. Pengalaman tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Desa Lamiku. (ADR/AL/NAF/FZS/SRA)

di dalam Berita
Menjaga Warisan Lipa Sabbe', Posko 45 KKN IAIN Parepare Belajar dari Penenun
Humas IAIN Parepare 16 Juli 2026
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar