Skip ke Konten

Dari Panggung Wisuda, "Alama Sea-Sea" Mengingatkan: Jangan Pernah Berhenti Belajar

Hamzah (Dosen Pascasarjana IAIN Parepare)
21 Agustus, 2026 oleh
Dari Panggung Wisuda, "Alama Sea-Sea" Mengingatkan: Jangan Pernah Berhenti Belajar
Humas IAIN Parepare


Mendengar lantunan elong Alama Sea-Sea untuk pertama kalinya, sekilas saya sudah dapat menangkap pesan yang disampaikan. Ada sesuatu yang terasa menyentuh dan lirih dari lantunannya yang sederhana, dan khas tetapi seolah menyimpan nasihat yang dalam.

Sebagai bagian dari entitas Mandar yang pernah hidup dan berinteraksi di lingkungan tanah Bugis, lantunan itu justru membangkitkan rasa penasaran saya. Apa sesungguhnya makna keseluruhan bait elong Alama Sea-Sea? Apa pesan yang ingin diwariskan oleh para leluhur melalui syair sederhana tersebut?

Rasa penasaran itu akhirnya mendorong saya untuk menelusurinya. Dengan bantuan keyboard pada telepon Android, saya mencoba menuliskan bait-bait yang terdengar dalam lantunan tersebut, kemudian mencari dan mencermati makna setiap barisnya.

Dan sungguh, saya dibuat terpukau. Ternyata di balik lantunan yang terdengar sederhana itu tersimpan pesan pendidikan yang begitu kuat tentang waktu, kesempatan, belajar, penyesalan, dan masa depan. Setiap baitnya seperti mengajak kita berhenti sejenak, menoleh kepada perjalanan hidup, lalu menyadari betapa berharganya kesempatan untuk belajar.

Sungguh menyentuh. Sungguh mendidik. 

Lebih menarik lagi, pesan yang lahir dari khazanah budaya Bugis itu ternyata begitu relevan dengan kehidupan kita hari ini. Bahkan, ketika Alama Sea-Sea dilantunkan di tengah suasana wisuda, maknanya terasa semakin dalam: bahwa menyelesaikan pendidikan bukan berarti selesai belajar.

Dari sinilah saya kemudian melihat Alama Sea-Sea bukan bukan sekadar sebuah lagu daerah, melainkan suara kearifan leluhur yang masih berbicara kepada generasi hari ini

Lirik lagu Alama Sea-Sea:

Alama sea-sea mua (Alangkah sia-sianya) 

Tauna ompori sesse’kale (Orang yang dilanda penyesalan) 

Nasaba riwettu baiccuna (Karena ketika masih kecil) 

De’ memeng naengka nagguru (Tidak pernah mau/belajar) 

Baiccu’ta mitu nawedding siseng (Justru ketika masih kecil itulah kesempatan untuk belajar) 

Narekko battoani masussani (Kalau sudah dewasa, akan menjadi sulit) 

Nasaba’ maraja nawa-nawani (Karena sudah banyak yang dipikirkan) 

Enrengnge pole toni kuttue (Dan kemalasan pun ikut datang) 

Ada sesuatu yang menarik dari lantunan elong Alama Sea-Sea oleh tim paduan suara UKM Animasi di sela-sela Wisuda Sarjana dan Pascasarjana IAIN Parepare Tahun 2026 (Sabtu, 22/08/2026). Di tengah suasana haru, bahagia, dan penuh kebanggaan atas keberhasilan para wisudawan, sebuah lagu Bugis lama justru hadir membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan.

Alama Sea-Sea adalah elong Bugis yang mengandung nasihat tentang pendidikan, waktu, dan penyesalan. Liriknya mengingatkan bahwa masa ketika seseorang masih kecil adalah kesempatan terbaik untuk belajar. Ketika usia semakin dewasa, tanggung jawab dan berbagai persoalan kehidupan semakin banyak sehingga proses belajar menjadi lebih berat. 

Kajian akademik terhadap lagu ini juga menemukan bahwa makna utamanya berkaitan erat dengan pentingnya pendidikan, kesempatan, waktu, dan tindakan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, ketika lagu tersebut dinyanyikan di hadapan para wisudawan, terjadi sebuah dialog yang menarik antara tradisi dan modernitas, budaya dan akademik, masa lalu dan masa depan.

Para wisudawan sedang merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Namun Alama Sea-Sea seolah mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Justru, wisuda merupakan awal dari tanggung jawab intelektual yang lebih besar.

Pesan elong tersebut menjadi semakin relevan bagi para sarjana dan magister. Gelar akademik bukanlah tanda bahwa seseorang telah selesai belajar, tetapi tanda bahwa ia telah menyelesaikan satu tahap pembelajaran dan memasuki tahap pengabdian yang lebih luas.

Di sinilah seni tradisional memiliki posisi penting dalam kehidupan akademik. Kampus tidak hanya tempat untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga ruang untuk merawat identitas, bahasa, budaya, dan kearifan lokal.

Pilihan elong Alama Sea-Sea oleh UKM Animasi dapat dibaca sebagai bentuk sederhana dari pelestarian budaya melalui ruang akademik. Lagu Bugis tidak ditempatkan sebagai artefak masa lalu yang hanya disimpan di ruang budaya, tetapi dihidupkan kembali di tengah peristiwa akademik yang sangat modern.

Lebih jauh lagi, momentum ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber pendidikan karakter. Pesan yang terkandung dalam Alama Sea-Sea sangat universal: manfaatkan kesempatan, hargai waktu, jangan malas belajar, dan jangan sampai penyesalan datang setelah kesempatan berlalu.

Maka, ada pesan yang sangat indah ketika lagu tersebut hadir di tengah wisuda:

“Hari ini kalian telah berhasil mencapai satu tahap pendidikan. Jangan berhenti belajar, karena kehidupan setelah wisuda justru menuntut ilmu yang lebih luas, tanggung jawab yang lebih besar, dan pengabdian yang lebih nyata.”

Dalam konteks perguruan tinggi keagamaan Islam, pesan tersebut bahkan memiliki dimensi yang lebih luas. Ilmu tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi harus bermuara pada kemanfaatan. Gelar bukan sekadar identitas, melainkan amanah untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Mungkin inilah salah satu kekuatan seni: sebuah lagu yang sederhana dapat menyampaikan pesan yang terkadang lebih kuat daripada pidato panjang.

Dan Alama Sea-Sea, ketika dilantunkan pada momentum wisuda, seakan menjadi suara generasi terdahulu yang berbicara kepada generasi hari ini:

Belajarlah selagi ada kesempatan. Gunakan waktu dengan baik. Jangan menunggu penyesalan datang untuk menyadari betapa berharganya ilmu.

Itulah sebabnya, lantunan Alama Sea-Sea di panggung Wisuda IAIN Parepare 2026 layak dilihat bukan hanya sebagai persembahan seni, tetapi sebagai pesan akademik, pesan budaya, sekaligus pesan moral bagi seluruh sivitas akademika.


Kampus Akulturasi Budaya, IAIN Parepare

Sabtu, 22 Agustus 2026

di dalam Opini
Dari Panggung Wisuda, "Alama Sea-Sea" Mengingatkan: Jangan Pernah Berhenti Belajar
Humas IAIN Parepare 21 Agustus 2026
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar