Bulan Rabiul Awal menyapa tanah Bugis dan sekitarnya, akan terlihat pelataran masjid hingga aula desa mendadak riuh oleh pemandangan warna-warni batang pohon pisang yang dihias kertas minyak dan ditancapi berderet telur rebus berkilau dalam bahasa bugis biasa disebut Bura’. Di sampingnya, ember-ember berisi sokko (ketan hitam) yang harum dan gurih siap untuk dibagikan ke jemaah mesjid maupun masyarakat sekitar. Ini menjadi pemandangan tahunan dan kerap dipuji sebagai bukti betapa luhurnya pelestarian tradisi keagamaan kita. Narasi yang selalu diulang adalah pujian atas keteguhan spiritual dan keharmonisan sosial warga.
Namun, jika kita berani melangkah keluar dari seremonial yang hangat itu, realitas di lapangan menyuguhkan kontras yang dingin. Di balik semaraknya hiasan telur dan gurihnya ketan, ada jutaan pekerja, karyawan, buruh dan anggota masyarakat yang sedang dihantui kecemasan di tempat kerja (workplace anxiety) akibat kelesuan ekonomi makro, ancaman efisiensi, serta tensi politik yang memanaskan ruang-ruang publik. Peringatan maulid kerap kali berhenti sejenak di hari itu sekadar sebagai rutinitas simbolis, tanpa sempat menyentuh dan menyembuhkan kecemasan struktural yang dialami oleh manusia (human capital) kita yang populer dengan teori modal manusia (Gary Backer, 1964).
Refleksi Bura’: Keadilan Distribusi dan Transparansi di Masa Sulit
Secara visual, bura’ mengajarkan kita tentang bagaimana sebuah wadah dirancang. Batang pisang yang kokoh itu ditancapi puluhan telur hias yang mudah dijangkau, untuk kemudian dicabut dan dibagikan secara adil kepada setiap warga yang hadir. Tidak ada yang mendominasi, tidak ada yang ditinggalkan.
Dalam kerangka Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) modern, bura’ adalah simbol dari keadilan distribusi (distributive justice) dan transparansi. Di tengah badai gejolak ekonomi, banyak organisasi justru melakukan hal yang sebaliknya, membebankan target setinggi langit tanpa transparansi, memotong fasilitas pekerja tingkat bawah, sementara puncak manajemen tetap menikmati dividen yang utuh. Mengadopsi filosofi bura’ berarti memastikan bahwa ketika krisis menghantam, beban dan rezeki dipikul serta dibagi secara proporsional. Kepemimpinan yang adil tidak akan membiarkan jajaran bawahnya tumbang sendirian di saat batang organisasi sebenarnya masih sanggup menopang.
Refleksi Sokko’: Keterikatan dan Solidaritas Tanpa Terpecah
Elemen penting lainnya adalah sokko. Ketan hitam ini dimasak sedemikian rupa hingga memiliki sifat yang khas, merekat, saling mengikat, dan sulit dipisahkan satu sama lain. Ia adalah metafora sempurna bagi social cohesion dan employee engagement.
Ketika gejolak politik luar mulai menyusup ke dalam ruang-ruang kantor dan pabrik, potensi polarisasi antar-pekerja sangat tinggi. Di sinilah nilai sokko menemukan relevansinya melalui budaya kearifan lokal Sipakatau (saling memanusiakan) dan Sipakalebbi (saling menghargai). Manajemen SDM harus bertindak sebagai "santan dan ketan" yang merekatkan tim. Solidaritas organisasi tidak boleh koyak hanya karena perbedaan pandangan politik atau tekanan target jangka pendek. Tanpa rasa keterikatan yang rekat seperti sokko, sebuah tim akan sangat mudah terpecah belah saat diuji oleh gelombang ketidakpastian.
Membumikan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw bukanlah tentang seberapa tinggi bura’ yang kita dirikan atau seberapa banyak bakul sokko yang kita kumpulkan. Ini adalah panggilan untuk menghidupkan kembali Prophetic Leadership (kepemimpinan kenabian) yang mengedepankan kepedulian, kejujuran, dan perlindungan bagi sesama.
Bagi para manajer SDM, pimpinan perusahaan, hingga pejabat publik, membumikan nilai bura’ dan sokko berarti menciptakan lingkungan kerja yang memberikan rasa aman (psychological safety) dan rasa memiliki (sense of belonging). Saat dunia di luar sedang bergejolak, organisasi yang sehat harus menjadi tempat bernaung yang adil dan solid. Hanya dengan menjadikan tradisi ini sebagai etos kerja dan kepemimpinan yang nyata, kita tidak sekadar merayakan kelahiran Nabi, tetapi benar-benar meneladani jalan beliau dalam merawat kemanusiaan.