Skip ke Konten

Hijrah Financial: Buah Tangan Rakernas AFEBIS di Jogjakarta

Oleh: Dr. Andi Bahri S, M.E ( Dekan FEBI IAIN Parepare )
16 Juni, 2026 oleh
Hijrah Financial: Buah Tangan Rakernas AFEBIS di Jogjakarta
Humas IAIN Parepare
| Seri 27


Humas IAIN Parepare --- Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS) yang berlangsung di Jogjakarta 14-16 Juni 2026 ini bukan sekadar agenda tahunan seremonial. Di balik riuhnya diskusi kelembagaan, terselip sebuah refleksi mendalam sekaligus "gugatan ilmiah" yang dilayangkan oleh Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc. Pemaparan beliau membuka mata kita semua bahwa agenda besar ekonomi syariah di Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan jalan antara romantisme demografis dan realitas pasar yang stagnan.


Dari rahim Jogjakarta, sebuah gagasan besar harus dicanangkan sebagai arah baru perjuangan akademik: “Hijrah Finansial”, Sebuah gerakan transformasi total, bukan sekadar kosmetik label, melainkan perpindahan fundamental dari ekosistem keuangan yang rapuh menuju ketahanan finansial syariah yang inklusif dan berbasis sains data.


Mengurai Paradoks: Mayoritas yang Minoritas

Esensi dari Hijrah Financial bermula dari keresahan atas paradoks angka yang dipaparkan Prof. Anggito. Indonesia bangga dengan predikat sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dunia (sekitar 85%–87% dari total populasi). Namun, dalam lanskap ekonomi, mayoritas ini justru menjadi minoritas dalam hal penguasaan aset. Market share keuangan syariah yang stagnan di angka *12%* adalah alarm keras.


Paradoks ini semakin menonjol jika kita membedah anatomi industri keuangan syariah kita:
1. Oligopoli Perbankan Syariah
Struktur pasar perbankan syariah kita tidak sehat karena terlalu bertumpu pada satu raksasa tunggal (single bank dominance), di mana Bank Syariah Indonesia (BSI) menguasai hampir *75%* aset.
2. Kebocoran Modal Jemaah Haji:
Kita adalah pengirim jemaah haji terbesar, namun terjadi capital outflow masif di mana *85% dana haji* justru mengalir keluar untuk membiayai ekosistem layanan di Arab Saudi, bukan mengendap menjadi stimulus ekonomi domestik.
3. Anomali Pasar Modal:
Emiten berbasis syariah merajai hingga 60%–70% lantai bursa, namun jumlah investor yang benar-benar memilih akun syariah kurang dari 1%.
Angka-angka ini adalah bukti sahih bahwa literasi dan inklusi keuangan syariah kita masih berada di permukaan. Masyarakat kita baru sebatas "beragama secara ritual", belum "berislam secara finansial".


Ancaman Gelap di Sektor “Shadow Economy”
“Hijrah Financial” juga menjadi urgensi di tengah gempuran era digital. Prof. Anggito menyoroti fenomena mencengangkan: nilai transaksi aset kripto di Indonesia menembus m Rp485 triliun, dengan 20% investor ritelnya adalah kalangan mahasiswa. Ironisnya, belum ada satu pun instrumen kripto lokal yang memiliki sertifikasi halal atau dinyatakan shariah-compliant.


Di sisi lain, saat instrumen syariah resmi berjuang merangkak naik, masyarakat justru rentan terjebak pada kejahatan finansial berkedok syariah. Produk investasi ilegal yang menjanjikan imbal hasil instan di atas 10% dengan bumbu-bumbu agama tumbuh subur memakan korban dari kalangan yang kurang literasi.


Tanpa adanya Hijrah Financial, generasi muda Muslim kita hanya akan menjadi konsumen dan korban dari shadow economy yang tidak ramah pada prinsip-prinsip syariat.


Khittah Perguruan Tinggi Islam: Dari "Tayamum" Menuju "Wudu”


Di sinilah AFEBIS harus mengambil peran sebagai motor penggerak. Prof. Anggito melayangkan kritik otentik yang analogis: perguruan tinggi Islam jangan lagi seperti orang yang "tayamum terus-menerus tanpa pernah wudu". Artinya, kampus tidak boleh lagi terjebak dalam perdebatan fikih normatif-teoretis tanpa berani masuk ke dalam wilayah aksioma, kebijakan makro, dan industri riil.
Dari kebutuhan sekitar 60.000 tenaga kerja baru di sektor keuangan syariah setiap tahunnya, institusi keagamaan Islam (PTKI) baru mampu menyuplai sekitar 10.000 lulusan. Sisanya diisi oleh lulusan umum. Mengapa? Karena ada gap kompetensi.


Kampus-kampus FEBI di seluruh Indonesia harus berhijrah secara akademik:
Transformasi Kurikulum: Mengawinkan ilmu syariah dengan data science, teknologi finansial (fintech), dan analisis kuantitatif.
Kolaborasi Agresif: Meruntuhkan ego sektoral antar-kampus untuk membentuk aliansi strategis guna menembus institusi pembuat kebijakan seperti Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS.

Membawa "Buah Tangan" Rakernas AFEBIS Jogjakarta ke Ranah Nyata
“Hijrah Financial” yang diilhami dari pemikiran Prof. Anggito Abimanyu di Rakernas AFEBIS Jogjakarta adalah sebuah panggilan sejarah. Hijrah ini menuntut kita berpindah dari mentalitas merasa cukup sebagai "pasar terbesar" menjadi berdaya sebagai "pemegang kendali pasar".

Tugas ini berada di pundak para akademisi, dekan, dan dosen yang tergabung dalam AFEBIS. Rakernas Jogjakarta telah memberikan momentum dan peta jalannya. Kini, tinggal bagaimana komitmen kolektif kita untuk mengubah draf pemikiran ini menjadi kurikulum yang membebaskan, riset yang solutif, dan lulusan yang mampu merebut kendali ekonomi nasional demi kemaslahatan umat. Saatnya berwudu, saatnya bergerak bersama. Selamat Tahun Baru Hijriah 1448.

Kontributor :  Tasrif

Editor           : Suherman

di dalam Opini
Hijrah Financial: Buah Tangan Rakernas AFEBIS di Jogjakarta
Humas IAIN Parepare 16 Juni 2026
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar