Ketangguhannya telah diuji semenjak era polarisasi geopolitik Perang Dingin, membuktikan kemampuannya untuk menyatukan bangsa yang majemuk di tengah berbagai gejolak ideologi global. Hari ini, di tengah pergeseran lanskap global yang bergerak ke arah multipolar, Pancasila kembali menghadapi ujian yang tidak kalah sengit, namun dengan medan juang yang telah berpindah: ruang digital dan institusi pendidikan. Tantangan ini menuntut adaptasi dan inovasi dalam cara kita memahami serta menginternalisasikan nilai-nilai luhur Pancasila.
Kondisi dilematis ini menjadi alarm keras bagi masa depan dunia pendidikan. Institusi pendidikan tinggi tidak boleh lagi sekadar menjadi menara gading yang melahirkan lulusan berorientasi nilai kognitif semata, melainkan harus bertindak sebagai laboratorium etis yang membumikan Pancasila secara konkret ke dalam ekosistem akademik. Peran kampus sebagai benteng moral dan intelektual menjadi semakin krusial dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan.
Pendekatan ini memastikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan menjadi landasan setiap kebijakan dan program akademik. Ikhtiar ini mengakar kuat pada Grand Strategy “Sinergi MALEBBI”, sebuah manifesto yang memadukan manajemen modern dengan kearifan lokal Bugis yang Mulia dan Santun. Konsep Malebbi, yang berarti mulia, santun, dan beradab, menjadi filosofi yang membimbing seluruh civitas akademika. Karakter Malebbi inilah yang menjadi antitesis lokal terhadap liarnya individualisme, konsumerisme, dan hilangnya keadaban di era digital, menawarkan sebuah model pendidikan yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya dan agama.
Di sinilah inklusivitas Pancasila dan esensi Islam Moderat mewujud: menjadi jembatan kolaborasi internasional tanpa harus kehilangan jati diri dan akar budaya nusantara. IAIN Parepare berupaya menciptakan lulusan yang mampu berinteraksi dengan dunia global tanpa tercerabut dari identitas keindonesiaan dan keislaman mereka, menjadi duta-duta perdamaian dan toleransi di kancah internasional.
Lebih jauh, internalisasi nilai-nilai luhur dasar negara ini harus bermuara pada penguatan keadilan sosial dan kemandirian institusi yang berdampak langsung pada masyarakat. Melalui konsep Eco-Campus yang didorong lewat inisiatif fisik seperti IAIN Parepare Halal Food-Hub & Creative Space, perguruan tinggi bertransformasi menjadi penggerak ekonomi sirkular yang inklusif. Konsep Eco-Campus tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal dan penciptaan ekosistem yang mendukung inovasi dan kewirausahaan.
Halal Food-Hub & Creative Space, misalnya, menjadi wadah bagi pengembangan produk halal dan ekonomi kreatif, melibatkan masyarakat sekitar kampus dalam rantai nilai ekonomi. Ini adalah wujud nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya berhenti pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat. Ketika kampus mampu mensinergikan tata kelola yang modern (Modern Administration), ketangkasan inovasi (Agile & Adaptive), dan keluhuran budi (Malebbi), maka perayaan Hari Lahir Pancasila telah naik kelas. Ia tidak lagi diperingati sebatas ritual seremonial tahunan, melainkan telah menjelma menjadi energi hidup yang menggerakkan peradaban dari daerah untuk dunia, menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara.
Dengan demikian, IAIN Parepare tidak hanya mencetak cendekiawan, tetapi juga agen perubahan yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dan Islam Moderat dalam setiap aspek kehidupan, baik di tingkat lokal maupun global.
Kontributor : Tasrif