Mendapati informasi bahwa pencapaian SDGs di lingkup perguruan tinggi menjadi salah satu indikator kinerja utama adalah sesuatu yang menggembirakan. Meskipun ini terbilang terlambat, tetapi daripada tidak sama sekali ini sudah menjadi langkah maju untuk memastikan kampus berdampak bagi masyarakat dan bagi pencapaian SDGs. IKU 7 ini hadir untuk mengukur keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian SDGs melalui pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, kerja sama, dan kebijakan kampus.
Perguruan tinggi setidaknya wajib berkontribusi terhadap 3 tujuan, yaitu SDG 1 (No Poverty); SDG 2 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). SDG 1 dimaksudkan agar perguruan tinggi dapat terlibat mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di manapun dan kapan pun. SDG 2 hadir untuk memastikan perguruan tinggi juga ikut menjamin pelaksanaan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, termasuk mendukung kesempatan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua. Kemudian, SDG 17 yang bertujuan untuk memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam kemitraan global lintas sektor untuk terlibat pembangunan berkelanjutan. Selain ketiga tujuan di atas, perguruan tinggi juga diwajibkan memilih dua tujuan pembangunan berkelanjutan lain yang harus disesuaikan dengan keunggulan kampus, spesialisasi, atau kebutuhan lokal kedaerahan.
Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia menanggapinya? Mungkin sebagian kampus tidak asing lagi dengan SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Beberapa kampus ternama seperti Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, IPB University hingga Universitas Hasanuddin tidak lagi menganggap IKU 7 sebagai momok yang perlu dikejar ketercapaiannya. Karena entitas pendukung seperti SDGs center atau SDGs Hub atau Lab SDGs sudah hadir sejak bertahun-tahun lalu, hingga dapat dipastikan usaha pelibatan kampus dalam pencapaian SDGs terlalu berlangsung jauh-jauh hari. Ini dapat dilihat dari keikutsertaan beberapa kampus tersebut dalam pemeringkatan SDGs, seperti UI Greenmetric dan The Higher Education Impact (THE Impact).
Jika perguruan tinggi telah mengikuti dua pemeringkatan SDGs secara global, maka dapat dipastikan sebagian besar indikator kinerja utama 7 dapat dicap terpenuhi. Barang tentu capaian IKU 7 yang harus berdampak dapat dibuktikan secara valid dengan bukti kerja di lapangan, bukan hanya berupa laporan kegiatan, tetapi dokumentasi dan pengukuran kualitas dan kuantitas yang terarah.
Pekerjaan besar menanti perguruan tinggi yang masih harus meraba akan diapakan IKU 7 ini? Bagaimana mempraksiskan atau istilah lainnya melokalkan SDGs yang bersifat global hingga ke ruang terkecil dan terdekat yang ada di ruang lingkup kampus?
Seyogyanya ini tidaklah sulit, karena setiap gerak dan kerja kita selalu terkait dengan pencapaian SDGs. Namun, segala kerja-kerja kita dari hal sederhana seperti membiasakan membawa botol minum sendiri dari rumah atau sekadar mematikan lampu dan TV selepas mengajar hingga hal yang sedikit kompleks, misalnya memperkenalkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan di kelas, sampai menjadikan SDGs sebagai nyawa visi program studi, seperti yang dilakukan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam diteruskan dengan hadirnya beberapa mata kuliah relevan akan selalu menjadi faktor pendukung pencapaian dari satu atau dua (bahkan lebih) tujuan pembangunan berkelanjutan. Ditambah lagi dengan hadirnya Lab SDGs yang membuka keran kolaborasi lintas sektor secara global bagi IAIN Parepare menjadi awal langkah yang tepat untuk turut serta dalam pencapaian SDGs dari wilayah Ajatappareng.
Hal penting sebagai ujung tombak pencapaian SDGs di lingkungan kampus hingga berhasil berdampak bagi masyarakat dan dunia adalah memastikan setiap pihak dan entitas perguruan tinggi mengenal bentuk konsep penting dan prinsip pelaksanaan SDGs, sehingga setiap program kerja atau kebijakan yang dikeluarkan akan selalu sejalan dengan SDGs. Karena SDGs perlu dilaksanakan secara inklusif, universal, dan integratif. Dengan kata lain, tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab satu entitas saja, tetapi butuh keterlibatan multipihak dari dalam maupun luar kampus.
Perguruan tinggi setidaknya wajib berkontribusi terhadap 3 tujuan, yaitu SDG 1 (No Poverty); SDG 2 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). SDG 1 dimaksudkan agar perguruan tinggi dapat terlibat mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di manapun dan kapan pun. SDG 2 hadir untuk memastikan perguruan tinggi juga ikut menjamin pelaksanaan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, termasuk mendukung kesempatan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua. Kemudian, SDG 17 yang bertujuan untuk memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam kemitraan global lintas sektor untuk terlibat pembangunan berkelanjutan. Selain ketiga tujuan di atas, perguruan tinggi juga diwajibkan memilih dua tujuan pembangunan berkelanjutan lain yang harus disesuaikan dengan keunggulan kampus, spesialisasi, atau kebutuhan lokal kedaerahan.
Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia menanggapinya? Mungkin sebagian kampus tidak asing lagi dengan SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Beberapa kampus ternama seperti Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, IPB University hingga Universitas Hasanuddin tidak lagi menganggap IKU 7 sebagai momok yang perlu dikejar ketercapaiannya. Karena entitas pendukung seperti SDGs center atau SDGs Hub atau Lab SDGs sudah hadir sejak bertahun-tahun lalu, hingga dapat dipastikan usaha pelibatan kampus dalam pencapaian SDGs terlalu berlangsung jauh-jauh hari. Ini dapat dilihat dari keikutsertaan beberapa kampus tersebut dalam pemeringkatan SDGs, seperti UI Greenmetric dan The Higher Education Impact (THE Impact).
Jika perguruan tinggi telah mengikuti dua pemeringkatan SDGs secara global, maka dapat dipastikan sebagian besar indikator kinerja utama 7 dapat dicap terpenuhi. Barang tentu capaian IKU 7 yang harus berdampak dapat dibuktikan secara valid dengan bukti kerja di lapangan, bukan hanya berupa laporan kegiatan, tetapi dokumentasi dan pengukuran kualitas dan kuantitas yang terarah.
Pekerjaan besar menanti perguruan tinggi yang masih harus meraba akan diapakan IKU 7 ini? Bagaimana mempraksiskan atau istilah lainnya melokalkan SDGs yang bersifat global hingga ke ruang terkecil dan terdekat yang ada di ruang lingkup kampus?
Seyogyanya ini tidaklah sulit, karena setiap gerak dan kerja kita selalu terkait dengan pencapaian SDGs. Namun, segala kerja-kerja kita dari hal sederhana seperti membiasakan membawa botol minum sendiri dari rumah atau sekadar mematikan lampu dan TV selepas mengajar hingga hal yang sedikit kompleks, misalnya memperkenalkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan di kelas, sampai menjadikan SDGs sebagai nyawa visi program studi, seperti yang dilakukan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam diteruskan dengan hadirnya beberapa mata kuliah relevan akan selalu menjadi faktor pendukung pencapaian dari satu atau dua (bahkan lebih) tujuan pembangunan berkelanjutan. Ditambah lagi dengan hadirnya Lab SDGs yang membuka keran kolaborasi lintas sektor secara global bagi IAIN Parepare menjadi awal langkah yang tepat untuk turut serta dalam pencapaian SDGs dari wilayah Ajatappareng.
Hal penting sebagai ujung tombak pencapaian SDGs di lingkungan kampus hingga berhasil berdampak bagi masyarakat dan dunia adalah memastikan setiap pihak dan entitas perguruan tinggi mengenal bentuk konsep penting dan prinsip pelaksanaan SDGs, sehingga setiap program kerja atau kebijakan yang dikeluarkan akan selalu sejalan dengan SDGs. Karena SDGs perlu dilaksanakan secara inklusif, universal, dan integratif. Dengan kata lain, tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab satu entitas saja, tetapi butuh keterlibatan multipihak dari dalam maupun luar kampus.