Skip ke Konten

Palu dan Pelajaran tentang Cara Bangkit

Oleh: Alfiansyah Anwar (Dosen IAIN Parepare)
15 Juli, 2026 oleh
Palu dan Pelajaran tentang Cara Bangkit
Humas IAIN Parepare
Ada kota yang dikenang karena kemegahan bangunannya. Ada yang diingat karena keindahan bentang alamnya. Namun, ada pula kota yang melekat di hati karena kemampuannya bangkit setelah dihantam duka. Palu adalah salah satunya.

Delapan tahun lalu, nama Palu memenuhi ruang-ruang pemberitaan nasional dan internasional. Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi merenggut ribuan nyawa, memisahkan keluarga, meluluhlantakkan rumah, serta meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Dunia menyaksikan bagaimana sebuah kota seakan kehilangan denyut kehidupannya.
Namun, waktu membuktikan bahwa manusia selalu memiliki kemampuan untuk bangkit. Dan Palu adalah bukti nyata bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati.

Kesan itulah yang saya rasakan selama sepekan berada di ibu kota Sulawesi Tengah. Tugas meliput Pekan Olahraga, Riset, dan Orientasi Seni Indonesia Timur (Poros Intim) IV membawa saya melihat Palu dari jarak yang lebih dekat. Sebagai bagian dari Tim Humas IAIN Parepare, Redaktur Website IAIN Parepare, sekaligus dosen Program Studi Jurnalistik Islam IAIN Parepare, saya datang untuk mendokumentasikan perjalanan kontingen.

Namun, yang saya bawa pulang ternyata jauh lebih berharga daripada sekadar berita, foto, video, atau data pertandingan. Saya pulang membawa pelajaran tentang ketangguhan, persaudaraan, dan harapan.

Sejak memasuki kawasan kota, Palu menyambut dengan wajah yang berbeda dari bayangan banyak orang. Jalan-jalan utama tampak lebar dan bersih. Deretan pepohonan tumbuh rapi di sepanjang median jalan. Arus kendaraan mengalir tertib tanpa hiruk-pikuk yang melelahkan. Di beberapa sudut, taman-taman kota menjadi ruang perjumpaan warga. Anak-anak bermain dengan riang, para orang tua menikmati sore bersama keluarga, sementara kaum muda memanfaatkan ruang publik untuk berolahraga dan bercengkerama.

Ketika senja mulai turun, Teluk Palu menghadirkan pesona yang sulit diabaikan. Langit berubah jingga, angin laut berembus lembut, dan masyarakat memenuhi kawasan pesisir. Ada yang berjalan santai, berlari kecil, menikmati kuliner, atau sekadar duduk memandang laut. Kota ini seolah ingin mengatakan bahwa kehidupan telah kembali menemukan iramanya.
Malam menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Dari kawasan Bukit Doda, saya memandang Palu dari ketinggian. Ribuan lampu kota membentang mengikuti lekuk Teluk Palu. Cahaya kendaraan membentuk garis-garis panjang yang menghiasi jalan pesisir. Di kejauhan, Masjid Agung Baitul Khairaat berdiri megah memancarkan cahaya putih yang menenangkan. Panorama itu bukan sekadar indah dipandang, melainkan sebuah simbol. Kota yang pernah tenggelam dalam duka kini kembali bersinar.

Selama berada di Palu, saya juga menyaksikan denyut kehidupan akademik yang begitu hidup. UIN Datokarama Palu menjadi tuan rumah Poros Intim IV yang berlangsung pada 6–11 Juli 2026. Ribuan mahasiswa dari 14 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di kawasan Indonesia Timur berkumpul dalam satu semangat. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar medali, tetapi juga untuk belajar, bertukar gagasan, membangun jejaring, dan mempererat persaudaraan.
Di arena olahraga terdengar sorak-sorai yang membakar semangat. Di ruang riset, gagasan-gagasan baru dipresentasikan dengan penuh percaya diri. Pada panggung seni, kreativitas dan kebudayaan tampil tanpa sekat. Kompetisi berlangsung ketat, tetapi persahabatan tumbuh jauh lebih kuat daripada rivalitas.
Hari-hari peliputan berjalan nyaris tanpa jeda. Pagi dimulai di arena pertandingan. Siang berpindah ke ruang presentasi riset. Malam berlanjut di panggung seni hingga agenda resmi penutupan. Di sela-sela kesibukan itu, berita harus segera ditulis, foto dipilih, video disunting, lalu dikirim ke tim editor Website IAIN Parepare agar setiap capaian kontingen dapat diketahui oleh sivitas akademika dan masyarakat.

Dari ritme pekerjaan itu saya kembali belajar bahwa humas bukan sekadar penyampai informasi. Humas adalah penjaga memori institusi. Ia memastikan setiap perjuangan, setiap air mata, setiap keberhasilan, dan setiap langkah kecil tidak hilang ditelan waktu.

Kerja keras seluruh delegasi akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.

Kontingen UIN Datokarama Palu tampil sebagai juara umum dengan raihan 15 medali emas. UIN Alauddin Makassar berada di posisi kedua dengan enam medali emas. IAIN Kendari menempati posisi ketiga dengan lima medali emas. Sementara itu, IAIN Parepare berhasil menempati peringkat keempat dengan empat medali emas. Tiga emas lahir dari cabang olahraga bulu tangkis dan satu emas dipersembahkan melalui cabang seni, yakni lomba menyanyi solo.

Di balik setiap medali terdapat kisah yang tidak pernah terlihat dari atas podium. Ada latihan yang panjang, rasa lelah, kegagalan yang pernah dialami, disiplin yang dijaga, doa para orang tua, dukungan pelatih, dan kerja sama seluruh tim. Medali hanyalah ujung dari perjalanan yang panjang.

Bagi IAIN Parepare, hasil tersebut bukan sekadar posisi dalam klasemen. Dua tahun sebelumnya, kampus ini pernah menjadi juara umum pada Poros Intim III di UIN Mataram. Tahun ini estafet juara berpindah kepada UIN Datokarama Palu. Begitulah hakikat kompetisi. Tidak ada kemenangan yang abadi, tetapi juga tidak ada kekalahan yang harus diratapi selamanya. Yang terpenting adalah kemampuan untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan kembali bangkit.

Malam penutupan Poros Intim IV menghadirkan suasana yang hangat sekaligus mengharukan. Ribuan peserta memadati halaman Kampus UIN Datokarama Palu. Tepuk tangan bergemuruh setiap kali nama pemenang dipanggil ke atas panggung. Suasana semakin akrab ketika Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman, M.Ag., menghibur peserta dengan membawakan beberapa lagu sambil memetik gitar. Musik malam itu menghapus sekat antarkampus. Semua larut dalam kegembiraan yang sama.

Pada kesempatan itu pula diumumkan bahwa IAIN Ternate akan menjadi tuan rumah Poros Intim V pada 2028. Pengumuman tersebut disambut tepuk tangan panjang. Sebuah estafet baru dimulai. Sebuah harapan baru dititipkan kepada Ternate untuk melanjutkan tradisi persaudaraan antarmahasiswa PTKIN se-Indonesia Timur.

Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hj. Darmawati, S.Ag., M.Pd., mengajak seluruh mahasiswa agar mensyukuri setiap capaian sekaligus menjadikannya motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Wakil Rektor III IAIN Parepare, Dr. Kaharuddin, S.Ag., M.Pd.I., juga memberikan apresiasi kepada seluruh atlet, peserta seni, pelatih, ofisial, dan suporter yang telah berjuang dengan penuh dedikasi. Harapannya sederhana, tetapi bermakna. IAIN Parepare mampu kembali menembus tiga besar pada Poros Intim V di Ternate dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan.

Bagi saya, Palu tidak hanya mengajarkan arti sebuah kebangkitan setelah bencana. Kota ini juga mengajarkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari jalan yang mulus atau gedung yang megah. Kebangkitan sesungguhnya lahir ketika masyarakat kembali percaya kepada masa depan, ketika ruang publik dipenuhi tawa anak-anak, ketika rumah ibadah ramai oleh jamaah, ketika mahasiswa saling merangkul dalam kompetisi, dan ketika sebuah kota mampu mengubah luka menjadi kekuatan.

Saat pesawat mulai meninggalkan Palu, saya menyadari bahwa yang saya bawa pulang bukan sekadar hasil liputan. Yang ikut pulang adalah keyakinan bahwa setiap manusia, setiap lembaga, bahkan setiap kota, selalu memiliki kesempatan kedua untuk bangkit. Luka memang tidak dapat dihapus, tetapi dapat diubah menjadi pelajaran yang menguatkan.

Barangkali itulah hadiah terbesar yang diberikan Palu kepada setiap orang yang datang berkunjung, sebuah pengingat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu keberanian untuk dibangunkan kembali.

Bagaimana menurut Anda? Apakah sebuah kota layak dikenang karena tragedi yang pernah menimpanya, atau karena keberhasilannya bangkit dan menata masa depannya? Jika Anda pernah mengunjungi Palu atau memiliki pengalaman tentang sebuah daerah yang berhasil bangkit dari keterpurukan, bagikan cerita dan pandangan Anda. Barangkali, dari kisah-kisah sederhana itulah kita belajar bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah saat tidak pernah jatuh, melainkan ketika mampu berdiri kembali dan melangkah dengan harapan yang baru. (*)

di dalam Opini
Palu dan Pelajaran tentang Cara Bangkit
Humas IAIN Parepare 15 Juli 2026
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar