Setiap kali tanggal 1 Juni tiba, kita kembali mengingat Pancasila.
Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai rutinitas tahunan. Upacara dilaksanakan. Spanduk dipasang. Ucapan selamat memenuhi media sosial. Lalu semuanya kembali berjalan seperti biasa.
Namun, sesungguhnya Hari Lahir Pancasila selalu mengandung pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar peringatan seremonial.
Masihkah nilai-nilai yang melahirkan Pancasila hidup di tengah kehidupan kita?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika diajukan kepada dunia kampus, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seperti IAIN Parepare.
Sebab, kampus bukan sekadar tempat mencetak lulusan.
Kampus adalah ruang tempat masa depan bangsa sedang dibentuk.
Di ruang-ruang kelas, mahasiswa belajar teori. Di perpustakaan, mereka membaca berbagai pemikiran. Di organisasi kemahasiswaan, mereka belajar kepemimpinan. Dan di tengah keberagaman pandangan yang ada, mereka belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar ilmu pengetahuan, yaitu belajar hidup bersama.
Sesungguhnya, semangat itulah yang melahirkan Pancasila.
Ketika para pendiri bangsa berkumpul pada tahun 1945, mereka datang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada nasionalis, ulama, tokoh agama, pemikir hukum, dan pejuang kemerdekaan. Mereka tidak selalu sepakat. Bahkan, sering kali berbeda secara tajam.
Namun, mereka memiliki kesadaran yang sama.
Indonesia terlalu besar untuk dibangun oleh satu kelompok.
Indonesia hanya bisa berdiri apabila semua pihak bersedia mencari titik temu.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Indonesia lahir dari semangat musyawarah.
Bukankah musyawarah juga merupakan nilai yang diajarkan dalam Islam?
Di sinilah sebenarnya hubungan antara Pancasila dan PTKIN menemukan maknanya.
Sering kali muncul anggapan seolah-olah agama dan Pancasila berada pada dua kutub yang berbeda. Padahal, sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya.
Para ulama justru menjadi bagian penting dalam proses lahirnya Pancasila dan berdirinya Republik Indonesia.
Mereka memahami bahwa menjaga Indonesia adalah bagian dari menjaga kemaslahatan bersama.
Karena itu, menjadi mahasiswa PTKIN sejatinya bukan hanya belajar tentang agama.
Lebih dari itu, mereka belajar bagaimana nilai-nilai agama menghadirkan kedamaian, keadilan, dan kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.
Bagi IAIN Parepare, pesan ini terasa sangat dekat.
Kampus ini lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang dikenal menjunjung tinggi nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai kearifan lokal Bugis tersebut sesungguhnya memiliki ruh yang sejalan dengan Pancasila.
Menghormati sesama manusia.
Menghargai perbedaan.
Saling mengingatkan dalam kebaikan.
Membangun kehidupan yang harmonis.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, tantangan yang dihadapi mahasiswa hari ini tidak lagi sama dengan tantangan yang dihadapi generasi sebelumnya.
Arus informasi datang tanpa batas.
Media sosial sering kali mempertemukan kita dengan berbagai pandangan yang ekstrem.
Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan.
Kebencian dapat menyebar lebih cepat daripada pengetahuan.
Dalam situasi seperti ini, kampus memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.
Kampus harus menjadi ruang dialog.
Ruang bertemunya berbagai gagasan.
Ruang tempat perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan dipertemukan.
Ruang tempat mahasiswa belajar bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kedewasaan moral.
Di sinilah Hari Lahir Pancasila menemukan relevansinya.
Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah.
Ia adalah panduan moral bagi kehidupan bersama.
Ia mengingatkan bahwa keberagaman bukanlah ancaman.
Keberagaman adalah kenyataan yang harus dikelola dengan kebijaksanaan.
Sebagai institusi pendidikan Islam, IAIN Parepare memiliki tanggung jawab strategis untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual.
Generasi yang mampu menjadi jembatan ketika masyarakat terbelah.
Generasi yang mampu menghadirkan solusi ketika konflik muncul.
Generasi yang memahami bahwa menjadi religius tidak berarti menutup diri terhadap perbedaan.
Justru sebaliknya.
Keberagamaan yang matang akan melahirkan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Dan penghormatan terhadap kemanusiaan itulah inti dari Pancasila.
Pada akhirnya, memperingati Hari Lahir Pancasila di lingkungan PTKIN bukan sekadar mengenang sejarah.
Ia merupakan momentum untuk meneguhkan kembali peran kampus sebagai penjaga akal sehat bangsa.
Sebagai rumah ilmu pengetahuan.
Sebagai pusat moderasi beragama.
Sebagai tempat lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu merawat Indonesia dengan ilmu, kebijaksanaan, dan keteladanan.
Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang berilmu yang mampu mengubah ilmu menjadi kemaslahatan.
Dan mungkin, itulah salah satu tugas paling penting yang sedang dipikul oleh IAIN Parepare hari ini.
Merawat nilai-nilai keislaman sekaligus menjaga rumah besar bernama Indonesia.
Editor : Sri Rahayu