Setiap sore menjelang magrib, pemandangan di pinggir jalan Kota Parepare selalu sama, kepulan asap dari wajan aluminium besar, aroma tajam bumbu penyedap sering kita hirup sebagai pertanda jajanan ini sudah siap untuk dinikmati, dan deretan gerobak serta gorengan yang berderet rapat saling mempertontonkan teknik dan cara mereka mengolah, membuat dan menggoreng adonan mereka. Di media sosial dan tv nasional atau pidato para pejabat, fenomena ini kerap dipuji sebagai "bukti ketangguhan ekonomi rakyat" atau "kebangkitan UMKM." Mengisyaratkan bahwa negara sedang baik-baik saja dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Namun, jika kita berani melihat lebih dekat ke dalam minyak yang mendidih itu, realitasnya jauh dari kata romantis. Menjamurnya jutaan gerobak disetiap daerah ini bukanlah tanda lahirnya inovasi wirausaha yang sehat, melainkan sinyal bahaya dari struktur ekonomi makro yang sedang mengalami pengeroposan dari dalam.
Ilusi Wirausaha dan Jebakan "Keterpaksaan". Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja, ada perbedaan tegas antara dua jenis wirausaha: opportunity entrepreneurship (berbisnis karena melihat peluang pasar yang cerdas) dan necessity entrepreneurship (berbisnis murni karena keterpaksaan demi bertahan hidup). Sebagian besar ledakan pedagang kaki lima saat ini masuk secara mutlak ke dalam kategori kedua. Ketika pabrik-pabrik manufaktur tutup dan sektor formal tidak lagi mampu menampung angkatan kerja termasuk ratusan ribu sarjana baru, menjual olahan tepung adalah jaring pengaman terakhir jika ingin bertahan. Bisnis ini dipilih bukan karena kecintaan pada dunia kuliner, melainkan karena barrier to entry (hambatan masuk) yang sangat rendah. Cukup bermodal beberapa kilogram tepung, minyak goreng, dan kompor portable, seseorang sudah bisa mendeklarasikan dirinya memiliki usaha.
Namun, kemudahan ini membawa petaka baru yaitu Kanibalisme Ekonomi. Ketika satu gerobak gorengan terlihat ramai, dalam hitungan minggu akan muncul tiga hingga lima gerobak sejenis di radius yang sama. Mereka menjual produk yang identik, menggunakan saus yang sama, dan menyasar konsumen yang sama. Akibatnya, mereka terjebak dalam perang harga yang brutal dan berdarah-darah.
Berlari Kencang, tapi tetap di tempat kondisi inilah yang disebut sebagai Treadmill Ekonomi. Para pedagang ini menghabiskan energi yang luar biasa setiap hari, berdiri 12 jam, menghirup asap jalanan, dan berisiko terkena cipratan minyak panas. Namun secara finansial, posisi mereka tidak bergeser satu sentimeter pun ke arah depan. Margin keuntungan mereka ditekan hingga setipis kertas agar pelanggan tidak kabur ke gerobak sebelah. Pendapatan hari ini habis hanya untuk membeli bahan baku esok hari dan menutup kebutuhan dapur rumah tangga. Tidak ada ruang untuk menabung, tidak ada asuransi kesehatan menjamin, dan tidak ada dana pensiun yang ditunggu. Mereka dipaksa terus berlari di atas treadmill itu, sekali saja mereka berhenti atau jatuh sakit, ekonomi keluarga langsung runtuh ke dasar jurang kemiskinan ekstrem. Ironisnya, mereka juga berdiri di atas bom waktu global. Sebagai "Negara Tepung" serta ”Negara Tempe” Indonesia bergantung hampir 100% pada impor gandum dan kedelai untuk bahan baku terigu dan tempe tahu. Ketika terjadi konflik geopolitik atau krisis iklim di belahan bumi lain, harga terigu dan kacang kedelai di pasar lokal akan melonjak. Bagi korporasi besar, kenaikan biaya bisa diredam dengan berbagai instrumen finansial. Namun bagi penjual gorengan, menaikkan harga jual Rp500 saja adalah tindakan bunuh diri yang bisa membuat mereka kehilangan seluruh pelanggan.
Solusi Manajemen SDM: Menghentikan Treadmill
Romantisasi terhadap penderitaan para pedagang jalanan ini harus dihentikan. Memuji mereka sebagai "pahlawan ekonomi" tanpa memberikan solusi struktural adalah bentuk pembiaran. Kita harus mengubah strategi bertahan hidup yang rapuh ini menjadi produktivitas yang berkelanjutan melalui pendekatan Manajemen SDM dan Tata Kelola Bisnis yang nyata: salah satunya Pemberdayaan Kolektif (Koperasi Modern): Pedagang kecil harus didorong untuk berkelompok, bukan berjalan sendiri-sendiri. Dengan membentuk koperasi, mereka bisa membeli bahan baku secara grosir langsung dari distributor untuk memotong biaya, sekaligus menghentikan perang harga antar-sesama anggota. Kedua, Diferensiasi dan Nilai Tambah (Value-Added): Pendidik dan lembaga pelatihan harus masuk untuk mengajarkan literasi bisnis dasar. UMKM harus diajarkan cara membuat produk yang unik (misalnya pemanfaatan bahan baku lokal nonterigu seperti tepung mocaf/singkong, atau standardisasi higienitas), sehingga mereka tidak perlu bersaing di pasar yang sama yang sudah jenuh. Terakhir, Program Jembatan Talenta (Reskilling): Pemerintah tidak boleh hanya membagikan bansos atau modal kecil lalu melepas mereka di jalanan. Harus ada program pelatihan kerja (micro-credentialing) yang terikat, yang mempersiapkan para korban PHK atau lulusan baru ini agar memiliki keahlian spesifik yang dibutuhkan oleh industri modern.
Menjamurnya gerobak gorengan di trotoar kita hari ini adalah potret rakyat yang sedang berjuang mandiri di tengah ruang hampa perlindungan. Sudah saatnya kita melihat fenomena ini dengan kacamata yang jujur dan objektif, bahwa tanpa adanya intervensi struktural untuk menaikkan kelas talenta dan model bisnis mereka, gurihnya bisnis gorengan akan tetap menyimpan rasa pahit dari jebakan kemiskinan yang berkepanjangan.