Menggapai Solidaritas: Together Protect Each Other

Menggapai Solidaritas: Together Protect Each Other

Oleh: Mahyuddin, M.A (Dosen IAIN Parepare)

Opini— Benedict Anderson, sejarawan dan ilmuan politik, pernah berucap eksistensi suatu bangsa berawal dari adanya pikiran-pikiran bersama. Oleh Anderson disebutnya “komunitas-komunitas terbayang”. Bangsa yang dibayangkan adalah suatu komunitas besar yang selalu dipahami sebagai kesetiakawanan. Ia merasuk mendalam dan melebar luas hingga pada akhirnya melahirkan rasa persaudaraan.

Sepintas lalu, Benedict Anderson hendak menegaskan pada kita bahwa imajinasi bersama adalah tonggak-tonggak persatuan. Imajinasi adalah simpul-simpul yang berperan sebagai kekuatan pengikat persaudaraan. Ya, pikiran-pikiran bersama menyatukan kita dalam imajinasi kolektif sebagai suatu bangsa. Dengan perkataan lain, kita bersatu karena kesediaan kita untuk hidup bersama dan saling merangkul yang terus dirawat melalui imajinasi-imajinasi kebersamaan.

Perhatian masyarakat Indonesia bahkan dunia saat ini yang masih berjibaku melawan dan memutus mata rantai virus Corona (Covid-19), adalah waktu yang tepat untuk menguatkan kembali imajinasi-imajinasi itu. Laksana bumi yang sedang gersang, kita membutuhkan siraman-siraman air untuk menumbuhkan semangat persaudaraan, menyegarkan kembali persatuan, dan menyemai lebih erat lagi rasa solidaritas sosial.

Pijakan ini tentu saja sangat beralasan. Selain tidak satu pun negara yang merasa aman dari ancaman Corona, juga realitas bahwa bumi Indonesia dihuni oleh ratusan juta penduduk, sehingga rentan diterpa tsunami pasien dan kelaparan. Karena itu, imajinasi kolektif sebagai kekuatan-kekuatan bangsa hendak terus ditumbuhkembangkan dengan bergandengan tangan melakukan aksi nyata untuk menghindarkan bangsa ini dari tragedi kemanusiaan bersebab pandemi Corona.

Ujian Pandemi Covid-19

Saat ini masyarakat kita dihadapkan pada situasi yang tidak sedang baik-baik saja. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semua negara. Mengutip pernyataan Yuval Noah Harari, sejarawan yang menulis buku spektakuler Homo Deus Masa Depan Umat Manusia. Bahwa bangsa manusia sedang menghadapi krisis global. Mungkin krisis terbesar dalam generasi kita.

Tatkala virus ini telah menyebar ke-202 negara dan menginfeksi 724.945 orang dengan jumlah kematin 34.041 jiwa (CSSE Jhons Hopkins University per 30 Maret 2020), seketika rutinitas terhenti dan terjadi gelombang yang berbalik, meminjam istilah Fritjof Capra, penulis buku Titik Balik Peradaban. Yaitu kita dihadapkan pada situasi krisis yang serius, suatu krisis yang kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kita. Ia telah memengaruhi aspek kesehatan dan mata pencaharian, hubungan sosial, ekonomi, teknologi hingga politik.

Di tanah air, penularan Covid-19 agaknya sudah sampai pada tahap tidak terbendung lagi. Betapa tidak, hampir di sebagian besar wilayah, telah masuk dalam zona merah lantaran terjangkit virus ini. Setiap hari banyak korban yang terpapar sampai meninggal. Data mutakhir menyebutkan, korban telah mencapai 1.677 orang (Detik.com per 1 April 2020). Tidak berhenti sampai di situ, tenaga medis (tim dokter dan perawat) dan pegiat kemanusiaan lainnya pun mulai kelagapan. Bahkan mulai bertumbangan menghadang pandemi ini di lapangan.

Inilah ujian-ujian bangsa kita saat ini. Kita tengah dihadapkan pada suatu kondisi yang berat dan tidak menentu. Epedimi ini tidak saja mengakibatkan kesehatan masyarakat Indonesia memburuk, tetapi juga membuat perekonomian nasional melemah, yang memengaruhi seluruh aspek sosial kehidupan kita. Itu tidak saja di Indonesia, tetapi di seluruh dunia yang sudah terpapar virus ini. Sampai-sampai negara adidaya seperti Amerika pun kalang kabut dibuatnya.

Jalan Buntu Phsycal Distancing

Setelah Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan maklumat perihal pentingnya phsycal distancing (kata ganti social distancing), seluruh dunia yang tengah menghadapi pandemi ini, menggelorakan kampanye itu. Wacana phsycal distancing kini begitu menggema di seantero penjuru dunia.

Di lini masa, orang- orang mulai menyuarakan pentingnya menghindari keramaian, perlunya tidak menjalin interaksi sosial yang intim, serta anjuran berdiam diri di rumah. Sampai-sampai fenomena ini direspons oleh pemerintah di berbagai negara dengan mulai menerapkan pembatasan rutinitas manusia. Orang-orang mulai bekerja dari rumah, sekolah-sekolah diliburkan, rumah-rumah ibadah disterilkan, sampai pada penutupan layanan-layanan publik.

Namun demikian, krisis phsycal distancing di masyarakat agaknya telah mencapai titik kulminasi dalam pekan-pekan terakhir ini. Selain pelaksanaanya yang sulit diterapkan, juga membawa ekses sosial ekonomi tersendiri bagi masyarakat terutama masyarakat kelas bawah.

Bagi masyarakat kelas menengah atas (saya menyebutnya sudah mapan dan bekerja di lembaga-lembaga formal), barangkali tidaklah menjadi masalah. Mereka bisa saja bekerja dari rumah, mengurung diri di rumah dengan segala ketercukupan kebutuhan ekonominya hingga tidak berinteraksi dengan siapa pun selama berhari-hari. Itu sangat memungkinkan.

Tetapi, bagaimana dengan buruh-buruh pabrik yang dilarang… [next page 2]

Pages: 1 2

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *