Menurunnya Tren Kasus Covid-19 di Indonesia juga Menurunkan Kualitas Pembelajaran

Menurunnya Tren Kasus Covid-19 di Indonesia juga Menurunkan Kualitas Pembelajaran

Oleh: Muh. Ilham Jaya

(Mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, IAIN Parepare)

OPINI— Pandemi Covid-19 yang menyerang seantero dunia ini telah membawa dampak yang begitu besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Mulai dari aspek kesehatan, sosial kemasyarakatan, hingga aspek pendidikan. Dampak yang terjadi pun beragam, mulai dari dampak positif yang sifatnya konstruktif hingga dampak negatif yang sifatnya destruktif. Salah satu dampak negatif pandemi covid-19 yang terjadi pada aspek pendidikan ialah terjadinya penurunan kualitas pembelajaran.

Suatu pembelajaran dapat dikatakan berkualitas apabila peserta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya, baik dalam ranah pengetahuan, sikap, ataupun keterampilannya (Daryanto, 2011: 54). Dalam pencapaian tujuan pembelajaran tersebut, maka diperlukanlah kurikulum sebagai sistem sekaligus juga merupakan pedoman dalam pelaksanaan suatu pembelajaran (Muhammedi, 2016: 49). Dalam sejarahnya, kurikulum di Indonesia telah berganti sebanyak 10 kali. Tanpa mengabaikan faktor politik sebagai faktor penyebab utamanya, pergantian kurikulum ini tentunya dimaksudkan pula untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Hingga saat sebelum terjadinya pandemi, kurikulum nasional yang berlaku ialah Kurikulum 2013 (K-13). Namun pada saat terjadinya pandemi, Nadiem Makarim selaku Mendikbud memberikan tiga opsi kurikulum yang dapat digunakan oleh sekolah pada kondisi tertentu. Opsi kurikulum ini antara lain: Tetap mengacu pada kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat, dan melakukan penyederhanaan secara mandiri terhadap kurikulum (Kompas.com, 08/08/2020).

Namun tampaknya apa yang kerap menjadi permasalahan pada kurikulum-kurikulum sebelumnya yakni permasalahan yang dialami oleh pelaksana kurikulum (tenaga pendidik/kependidikan dan peserta didik) juga telah terjadi pada saat penerapan kurikulum di era pandemi covid-19 melanda. Bedanya dengan permasalahan pelaksana kurikulum pendahulunya, permasalahan yang dialami oleh pelaksana kurikulum era pandemi jauh lebih kompleks karena adanya peralihan sistem pembelajaran luar jaringan (luring/offline) ke dalam jaringan (daring/online) yang belum pernah dilakukan secara skala nasional sebelumnya.

Kini kasus covid-19 di Indonesia sudah tidak sebanyak dengan kasus pekan sebelumnya. Akan tetapi, apabila dilihat dari skala global maka sesungguhnya pandemi belumlah berakhir karena jumlah kasus covid-19 akhir-akhir ini meningkat di 85 negara (dw.com, 29/10/2021).

Peralihan KBM daring ke KBM luring menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas pembelajaran

Tren kasus covid-19 di Indonesia yang menunjukkan penurunan kasus telah membuat beberapa sekolah melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara luring setelah hampir dua tahun melaksanakan KBM daring. Alhasil yang menjadi sorotan kemudian adalah bagaimana kualitas pembelajaran peserta didik, apakah mengalami penurunan atau peningkatan. Namun dari beberapa sekolah yang penulis pantau, temuan yang ditemukan ialah terdapat penurunan kualitas pembelajaran yang salah satu penyebabnya adalah peralihan sistem pembelajaran daring ke luring.

Kebanyakan peserta didik telah terbiasa stagnan saat proses pembelajaran daring berlangsung ditambah lagi dengan minimnya dorongan untuk membangun konstruksi pemikiran peserta didik tersebut, dengan kata lain peserta didik hanya menginginkan untuk disuapi. Pernyataan “iya pak/bu” dan “terimakasih pak/bu” telah menghiasi ruang-ruang dimana KBM daring dilaksanakan. Peserta didik hanya menyimak materi pelajaran tanpa betul-betul memahami esensi materi pelajaran yang dipelajarinya. Penerapan metode resitasi/penugasan yang dianggap sebagai metode terbaik saat KBM daring berlangsung pun tak seindah das sollen yang diharapkan. Dan kesemuanya ini telah berlangsung selama hampir dua tahun.

Beralihnya KBM daring ke KBM luring tidak serta merta membawa perubahan yang signifikan dalam kualitas pembelajaran. Hal yang menjadi kebiasaan peserta didik dalam menyikapi KBM daring di atas ikut terbawa saat KBM luring mulai dilaksanakan kembali. Kurikulum yang sejatinya menghendaki student-centered learning (pembelajaran berpusat pada peserta didik) tampaknya sulit untuk direalisasikan secara menyeluruh saat ini dikarenakan konstruksi berpikir peserta didik yang kurang terasah sehingga tenaga pendidik selaku salah satu pelaksana kurikulum kesulitan dalam menerapkan metode-metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan di beberapa kasus lebih memilih menggunakan metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan ini merupakan salah satu indikasi menurunnya kualitas pembelajaran.

Menggalakkan pendekatan inquiry pada setiap mapel menjadi solusi

Inquiry-based learning atau pembelajaran dengan pendekatan inquiry merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada peserta didik sehingga dalam pembelajarannya, peserta didik lebih banyak belajar sendiri dan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan suatu permasalahan (Sutrisno, 2008). Pendekatan inquiry ini merupakan ciri khas dari kurikulum 2013 selaku kurikulum nasional dan digadang-gadang sebagai pendekatan yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia karena memang peserta didik dituntut untuk memahami materi pelajaran secara menyeluruh, tidak hanya disuapi oleh guru belaka.

Apabila pendekatan inquiry ini telah berhasil digunakan dalam setiap proses pembelajaran maka bukan tidak mungkin pembelajaran di Indonesia mampu meningkat kualitasnya dan alhasil pendidikan di Indonesia pun dapat mengalami kemajuan/gradasi.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *