OPINI ; Horor Coronavirus dan Budaya Kekerasan Masyarakat

OPINI ; Horor Coronavirus dan Budaya Kekerasan Masyarakat

Oleh: Mahyuddin, M.A (Dosen IAIN Parepare)

OPINI —- Tatanan moral masyarakat kita akhir-akhir ini tengah diuji oleh gelombang kehadiran Coronavirus (Covid-19). Peristiwa yang menyeruak di permukaan adalah muncul tindakan sosial sekelompok orang yang mengarah pada proses dehumanisasi. Yaitu tampak tengah berlangsung peristiwa-peristiwa kekerasan yang membawa pada luka kemanusiaan yang amat dalam.

Isu yang mengemuka di lini masa adalah berbagai efek kemanusiaan yang diderita pasien berjangkit virus Corona. Santer diperbincangkan, orang-orang mulai menciptakan semacam penghindaran diri atas pasien tersebut ke dalam bentuk penolakan demi penolakan.

Di dalam fenomena ini, masyarakat melahirkan kontradiksi kekerasan “pemaksaan simbolik”, meminjam istilah sosiolog Pierre Bourdiau (Mumtahir, 2011). Bahwa ada unsur pemaksaan yang menjauhkan seseorang dari kecerdasan merasakan, berempati, dan bersosial. Sebab, yang dipertontonkan adalah tindakan yang jauh melampaui kenyataan sehari-hari kita. Suatu kenyataan yang sesungguhnya tidak lumrah pada masyarakat kita. Yaitu ada di antara sebagian anggota masyarakat melakukan penolakan-penolakan ketika jenazah yang positif terinfeksi Corona akan dimakamkan (Baca; Penolakan Pasien Corona).

Di situasi ini tentu hal tersebut sangat disayangkan. Ketakutan yang menggiring individu atau kelompok ke arah tindakan kekerasan terhadap orang lain, secara moralitas jelas tidaklah dibenarkan. Tindakan semacam ini sungguh jauh dari nilai-nilai sosial masyarakat kita yang demikian menjunjung tinggi penghargaan sosial dan budaya tolong-menolong di dalam perikehidupan bermasyarakat. Lalu bagaimana sosiologi menjelaskan fenomena sosial ini?

Masyarakat dan Hiperrealitas

Jean Baudrillard, seorang sosiolog posmodern Prancis, di dalam In The Shadow of the Silent Majorities menggunakan istilah hiperrealitas untuk menjelaskan distorsi makna lewat bahasa dalam suatu masyarakat (Ritzer, 2004). Menurut Baudrillard, di dalam dunia hiperrealitas kesemuan lebih dianggap nyata daripada kenyataan, dan kepalsuan dianggap lebih benar daripada kebenaran. Artinya, masyarakat kadang kala lebih percaya isu ketimbang informasi, rumor (cerita dari mulut ke mulut) dianggap lebih benar daripada kebenaran. Akhirnya, masyarakat tidak dapat lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara isu dan realitas.

Di era masyarakat informasi saat ini, tidak dapat dimungkiri bahwa berseliwerannya berita tentang horor Corona membuat masyarakat panik. Citra virus ini yang cenderung “destruktif” mewarnai dengan sangat pekat informasi yang diterima masyarakat. Tak pelak, berkembang hiperrealitas tentang Corona ke arah efek-efek yang ekstrem, yaitu masyarakat terperangkap di dalam pengaburan-pengaburan makna.

Di dalam masa perang melawan virus ini, berbagai informasi yang disajikan berbagai media kontemporer seperti video, foto dan audio visual lewat media sosial menciptakan persoalan sosio-kultural yang berkaitan dengan pengetahuan, nilai dan makna. Oleh Yasraf Piliang disebutnya fatalitas informasi, yaitu informasi yang membiak tanpa henti dan tanpa terkendali di dalam media telah menggiring individu ke arah “hiperbola”. Akibatnya, yang terjadi adalah ada kesimpangsiuran kata dan penanda. Pencarian makna dan kebenaran pun menjadi mustahil.

Fenomena ini saya kira yang tengah berkembang di masyarakat. Merebaknya isu Corona di berbagai belahan dunia dan di tanah air telah menggiring masyarakat ke arah “hiperrealitas Corona”. Kampanye-kampanye pembatasan sosial (stay at home, social disatance, phsycal distancing, work from home, lockdown) di lini masa yang begitu masif telah berperan dalam membentuk hiperrealitas ini. Sehingga, betul yang dikatakan Baudrillard bahwa masyarakat lebih memercayai rumor ketimbang kebenaran. Ya, rumor kadang kala menutupi dan menyelewengkan dasar realitas yang sesungguhnya di situasi sekarang ini.

Di masyarakat kita, keberadaan berita horor Corona yang tersebar luas sedikit banyak mulai memengaruhi akal sehat kita. Irasionalitas dalam bahasa Baudrillard. Hal itu terjadi lantaran masyarakat telah terkontaminasi ke dalam hiperrealitas Coronavirus. Kita bisa saksikan bahwa dengan dalih menjaga jarak sosial, menghalangi orang, menyingkirkan individu, mendiskreditkan kelompok, bahkan menindas fisik dan psikologis orang lain dianggap lebih realistis daripada membuka ruang dialog untuk menemukan kesepahaman bersama. Tak ada lagi yang lebih realistis selain menjaga jarak meskipun ia bertindak terhadap orang lain di atas norma kewajaran.

Pergeseran Nilai dan Konsekuensi Sosial-Kultural

Di dalam kehidupan masyarakat yang penuh dengan ketakutan dan ketidakpastian bersebab Covid-19, harus diakui bahwa fenomena ini membawa efek sosial tersendiri bagi perubahan nilai dan norma masyarakat. Dalam artian kebiasaan dan tata kelakuan masyarakat ikut berubah seiring dengan merebaknya ancaman-ancaman virus berbahaya ini.

Horor bencana kematian massal virus ini… [next page 2]

Pages: 1 2

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *