OPINI : Memotret RA Kartini dalam Spektrum Moderasi Perempuan

OPINI : Memotret RA Kartini dalam Spektrum Moderasi Perempuan


Oleh : Ahmad Riecardy (Presiden Mahasiswa IAIN Parepare)

OPINI — Gagasan besar feminisme RA Kartini adalah spektrum perlawanan atas marjinalisasi perempuan era kolonial.

Kata perempuan dalam metathesis dan kontoid secara maknawi memiliki nilai yang sangat tinggi dan mulia dibandingkan dengan padanan kata wanita. Perempuan dari kata mpu, empu yang bermakna orang yang terhormat dan mulia (Zoetmulder, 2009). Konotasi perempuan lebih mengarah kepada emansipasi perjuangan, pembelaan hak dan pemberdayaan potensi diri. Perempuan memiliki visioner artinya peka dalam melihat kesengsaraan rakyat yang terjadi. Ia hadir membawa perubahan dan semangat pendidikan.

Wanita memiliki karakter yang agak berbeda. Bisa dilihat dari pandangan Sudarti dan Jupriono dalam bukunya yang memberikan penekanan pada karakter wanita yakni selalu mengalah dengan keadaan dan senantiasa berbakti atau tipikal yang manutan. Wanita tidak berdaya akan kebebasannya dalam hal pendidikan. Mereka juga tunduk akan hak dalam memilah-memilih pasangan masa depan. Faktor adat dan tradisi yang mengharuskan orang tua yang paling berhak menentukan menantu idaman, perempuan pun legowo apa adanya. Kemudian setelah menikah ia berbakti mengurusi profesi rumah tangga selayaknya budak era jahiliyah.

Maka sosok RA Kartini kali ini adalah perempuan yang berjasa besar dalam perkembangan peradaban pendidikan dan hak mandiri kaum perempuan. Kehadirannya menawarkan gagasan membangun sebagai vaksin kala itu. Kondisi rakyat yang bias akan pendidikan dan diskriminasi perempuan menjadi cikal bakal lahirnya revolusi feminisme RA Kartini.

Bagaimana tidak, carut marut pendidikan begitu diskriminatif sungguh tak sedap dipandang. Pendidikan hanya untuk anak-anak penjajah. Politik etis pendidikan yang jadi argumentasi cerdas ternyata alih-alih hanya kepentingan kaum elit bangsawan, rakyat biasa dipinggirkan dan dikucilkan.

Sekolah-sekolah rakyat biasa dipisahkan dari kelompok elit bangsawan dan anak penjajah. Sekolah Ongko Loro dan Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak kalangan menengah ke bawah minim finansial seperti anak petani, buruh, dan lama belajarnya kurang lebih 3 tahun.

Ongko Siji ataupun HIS umumnya untuk anak-anak pribumi kalangan menengah ke atas seperti bangsawan, pegawai PNS atau pemerintahan, pegawai perusahaan dan lama belajarnya sampai 6 tahun. Europesche Lager School (ELS) atau sekolah bagi anak-anak penjajah dan beberapa anak pribumi dari kalangan elit bangsawan. Lama belajarnya mencapai 6 tahun dengan syarat mampu berbicara bahasa Belanda. Potret sederhana pendidikan era kolonial dapat dilihat pada film Oeroeg (1995).

Walaupun pada akhirnya pendidikan versi penjajahan sekedar memberikan kecakapan ilmu yang nantinya untuk keperluan produksi dan kekuasaanya. Desentralisasi politik yang terjadi membuat penguasa (Hindia-Belanda) memberikan akses kerja selebar-lebarnya kepada pribumi. Ujungnya bagaimana rakyat dididik bukan untuk dicerdaskan melainkan sebagai buruh pekerja swasta dan negeri. Perlakuan berbeda bagi kaum perempuan.

Mereka tidak layak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan selayaknya laki-laki. Toh nantinya ia hanya akan menjalani profesi sumur, dapur dan kasur. Nah mempelajari RA Kartini sebagai sosok perempuan dalam kesehariannya tidak lepas dari aktivitas produktif yang jarang digeluti kaum perempuan pada umumnya. Aktivitas membaca senantiasa mewarnai kesehariannya dan semua gagasannya dituangkan melalui tulisan.

Tulisan-tulisan satire-nya begitu tajam dalam menyadarkan akan pentingnya perlawanan akan hak dan pendidikan. Surat-suratnya diterbitkan dalam bahasa Belanda berkat kedekatannya dengan Mr Abendanon bersama istrinya. Bahkan ia sempat membuat sekolah keputrian melalui nasehat dan petunjuk Mr Abendanon.

Perjuangannya tidak serta merta berfokus keprihatinan akan perempuan. Akan tetapi harus digaris bawahi bahwa RA Kartini berpikir akan nasib generasi putra-putri tanah air yang akan datang. Hanya saja kondisi rakyat waktu itu banyak memakan korban keprihatinan kaum perempuan. Potret kondisi rakyat dapat dilihat dari tulisan-tulisannya yang penuh kritikan dan gambaran akan kondisi perempuan.

Dalam Bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini (terj. Armijn Pane) disitu dapat dilihat situasi perlawanan RA Kartini lewat tulisan dan surat-suratnya yang ia kirimkan kepada Nona Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Suer, Mr Abendanon dan istrinya, Nyonya Van Kol.

RA Kartini dihadapkan dengan budaya atau tradisi patriarki, feodalisme dan kolonialisme. Tradisi di masa itu begitu mengkungkung kebebasan orang-orang khususnya perempuan tanah air dalam hal berkereasi bahkan bercita-cita. Hak-hak mereka tidak diberikan dan disetarakan. Penilaian berdasarkan kasta, diskriminasi rakyat, kerja paksa dan tragedi kemiskinan yang menyengsarakan rakyat adalah potret perjuangan ibu kita RA Kartini. Tragedi kemanusiaan yang dihadapi ibu kita Kartini adalah gambaran umum masyarakat yang hidup di bawah penjajahan Eropa. Bangkitnya revolusi Kartini tidak lain sebagai bentuk keprihatinan terhadap gejolak kesengsaraan rakyat akan kungkungan penguasa. RA Kartini hadir bak pahlawan yang menawarkan kedamaian dan semangat hidup khususnya bagi kaum perempuan.

Dalam sejarah tradisi patriarki sungguh menyiksa batin kaum perempuan. Konsep-konsepsi rakyat tentang perempuan berbeda condong merendahkan. Akibat doktrin bangsa eropa yang menjajah kala itu. Sejak dini putra-putri Indonesia kita ditanamkan pemahaman ideal tentang perempuan. Perempuan tidak memiliki tujuan lain selain kawin atau dinikahi. Konsepsi ideal perempuan dipandang hanya sebatas kategori fisik lemah dan tak diperhitungkan. Wanita harus setia dengan suami yang memiliki selir hingga puluhan.

Wanita dipaksa menerima praktik poligami… [next page 2]

Pages: 1 2

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *