OPINI : Memotret RA Kartini dalam Spektrum Moderasi Perempuan

OPINI : Memotret RA Kartini dalam Spektrum Moderasi Perempuan

[Page 2]

Wanita dipaksa menerima praktik poligami akibat taklid buta laki-laki akan teks agama. Betapa mungkin hidup damai bila aturannya demikian. Suaminya boleh membawa perempuan lain ke rumah. Kesengsaraan perempuan yang dipoligami nampak adanya. Logika Kartini “Bagaimana aku cinta dengan suami yang membawa perempuan lain ke rumah dan itu dibolehkan”. Sehingga RA Kartini berijtihad bahwa segala perbuatan yang menyakiti orang lain adalah dosa menurut RA Kartini.

Kritikan dari RA Kartini melaui suratnya merespon kondisi sosial yang terjadi, begitu ironis. Cita-cita dan kemauan perempuan ditaklukkan dengan tradisi patriarki yang mengutamakan laki-laki. Wanita tidak boleh banyak berinteraksi di luar rumah. Tempat belajarnya difokuskan di dalam rumah. Ketika berusia 12 tahun maka ia di pinggit beberapa tahun dikurung di dalam rumah. Berbeda dengan elit sebayanya mendapat perlakuan spesial dalam hal pendidikan.

Setelah patriarki ada feodalisme oleh hegemoni kaum bangsawan. Politik Kebangsawanan ini membuat struktur masyarakat berdasarkan pengakuan kasta. Bangsawan makhluk yang lebih tinggi maka ia berhak mendapat hak yang lebih tinggi berdasarkan paham feodal. Dalam Tradisi Feodalis bangsawan memiliki perasaan yang lebih tinggi dan selalu diistimewakan. Bangsawan bukan sebagai pelayan rakyat. Salah satu surat yang paling menarik dari RA Kartini adalah ketika ia menuliskan gagasannya tentang arti bangsawan.

Dalam suratnya kepada Nona Zeehahandelaar (18/9/1989) bahwa ada dua macam bangsawan yakni bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Sama sekali RA Kartini tidak sepakat dengan marjinalisasi hak rakyat berdasarkan kebangsawan walaupun ia adalah seorang bangsawan. Maka bangsawan menurutnya adalah orang yang memberdayakan pikirannya untuk kepentingan rakyat tanpa mendikotomi, mendiskriminasi dan memberikan keteladanan akhlakul kharimah yakni budi pekerti yang luhur.

Selaras dengan cita-cita tokoh pendidikan nasional kita Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan pada umumnya berarti berupaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak agar selaras dengan alam dan masyarakat.

Kolonial tidak lain adalah bentuk penjajahan kapitalis “tanam paksa” penguasa. Sistem tanam paksa dibuat oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830 setelah berakhirnya perang jawa. Efek peperangan tersebut menguras banyak kas pemerintah. Sehingga Van den Bosch dengan keahlian birokratnya mewajibkan rakyat menyediakan 20% lahannya untuk ditanami komoditas rempa-rempa yang laku di pasar Eropa.

Bagi rakyat yang tidak memiliki lahan untuk ditanami maka mereka yang menjadi penggarap tanahnya. Olehnya itu diberlakukanlah praktik cultuurstelsel untuk memperbaiki kemorosotan keuangan pemerintah Hindia-Belanda dengan memperbudak anak-cucu bangsa.

Lepas dari itu kita lihat bahwa sepanjang peradaban Islam kita kenal ada berbagai konstribusi kaum perempuan. Salah satunya Sitti Khadijah yaitu istri pertama Nabi Muhammad SAW yang digelari ummul mukminin dan ia adalah seorang pedagang kaya raya dan ahli perniagaan. Riwayat sejarah menceritakan sosok beliau yang begitu selektif memilih pasangan. Berkali-kali ia menolak lamaran raja-raja dan bangsawan quraisy untuk dinikahinya. Alangkah takjubnya ketika bermitra dagang dengan Nabi Muhammad SAW. Ia terkagum-kagum dengan sikap Al-Amin-nya Nabi.

Perempuan yang terpandang, tokoh masyarakat nan kaya raya ternyata dibuat takluk akan sikap kejujuran dan kebijaksanaan seorang laki-laki yang 15 tahun lebih muda darinya.

Di bidang tasawuf yang bercorak sufistik (metafisik) siapa yang tidak kenal dengan Rabiatul Al-Adawiyah. Selama hidupnya yang kurang lebih 90 tahun tanpa didampingi oleh sosok laki-laki sebagai pasangan hidup. Umurnya selama di dunia hanya untuk mempersembahkan cintanya kepada Sang Pemberi Cinta dan Rahmat yakni Tuhan semesta alam. Javid Narbakhs dalam bukunya “Wanita-wanita sufi” bahwa Rabiatul Adawiyah berkata “Aku adalah bukan milikku sendiri, melainkan aku adalah milik-Nya”. Tiada ruang bagi laki-laki di hatiku untuk menyimpan rasa kecuali kepada Allah semata. Tiada yang berhak menyelami cinta seorang Rabiah kecuali Tuhan itu sendiri sebagai pemilik cinta keabadian.

Begitu juga tokoh-tokoh perempuan abad ini. Najwa Shihab dengan gaya bicara blak-blakannya menyoal kebijakan pemerintah. Ia aktif menulis, membaca dan memahami problem rakyat seperti halnya RA Kartini. Atau mengintip sosok yang lainnya yang sedang hits di kabinet yaitu ibu Sri Mulyani.

Potensinya dalam mengelola keuangan dan ekonomi membawa Indonesia dari keterpurukan krisis ekonomi menuju peradaban Indonesia emas. Di sisi lain dengan kalimat khasnya “Tenggelamkan” adalah sosok Susi Pudjiastuti mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Sikap tegasnya memberantas nelayan ilegal sangat heroik dan inspiratif.

Quraish Shihab menguraikan potret perempuan abad ini dalam bukunya “Perempuan” tidak lepas dari proses ekploitasi untuk keperluan komoditi ekonomi. Para wanita dijadikan aktor-aktor iklan bayaran produk-produk domestik. Iklan sabun, handbody, sampo dan produk kecantikan lainnya. Iklan-iklan tersebut menampakkan keseksian dan kemolekan tubuh wanita. Sama halnya di dunia perfilman yang kesannya mengeskploitasi wanita. Mereka memainkan peran-peran hantu yang menakutkan seperti Kuntilanak, Sundel Bolong, Mak Lampir, Suster Ngesot. Tak jarang dipertontonkan juga adegan pemerkosaan, pembunuhan sadis, kekerasan rumah tangga.

Dari dunia iklan, media dan perfilman itulah secara kasat mata mengubah perspektif kita tentang perempuan yang ideal, perspektif laki-laki tentang cantik. Penggambaran perempuan yang condong eksploitatif inilah yang dihadapi perempuan saat ini. Budaya lama dengan modifikasi baru yakni konsumerisme. Mengatur pola produksi, distribusi dan konsumsi demi memonopoli produk domestik. Memanfaatkan media yang ada agar rakyat terdoktrin sejak dini. Watak rakyat dibentuk sesuai kepentingan transaksi komoditas ekonomi. Media-media itu sebagai alat kepentingan elit yang dijual atas nama perempuan.

Tidak hanya itu pergeseran kini semakin menguat pedas akibat ketidakmampuan mengelola media internet sebagai informasi yang bermanfaat. Iklan-iklan dan media streaming gencar-gencarnya dimuat di internet saat ini. Ketidak cermatan dan bijak dalam mengeksplor diri dengan internet memiliki dampak negatif yang mengubah pola-pola kebiasaan belanja, mudah terpapar hoaks, dan hubungan keluarga pun mulai renggang.

Untuk mewujudkan konsepsi berpikir kita tentang manusia yang adil, harmonis antara laki-laki dan perempuan maka tidak lepas dari nilai tauhid dan egalitas yang Murthada Muthahari utarakan dalam “Filsafat Perempuan dalam Islam”. Nilai-nilai egalitas atau menyamakan derajat itu kemudian disematkan dalam bidang apapun terutama dalam ekonomi, pendidikan bahkan kehidupan bermasyarakat. Peradaban maju yang dimimpikan Murthada Muthahari kiranya relevan dengan konteks kebutuhan abad ini untuk membawa kemajuan pikir kaum perempuan di tengah merebaknya kasus kekerasan terhadap kaum perempuan.

Tahun 2020 Komnas Perempuan telah mencatat 431.471 kekerasan terhadap perempuan yang meningkat setiap tahun. Spektrum kekerasannya sangat beragam diantaranya ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno, kekerasan di bawah umur, KDRT, dll. Menandakan minimnya pendidikan atau penerapan kurikulum tentang kesehatan dan seksual. Maka darinya itu, Komnas Perempuan memberikan rekomendasi ke Mendikbud akan penerapan kurikulum pendidikan yang berorientasi kepada penanggulangan kekerasan terhadap perempuan (komnasperempuan.go.id).

Maka selayaknya patut direnungi dan direfleksi akan peran dan fungsi perempuan bukan semata pada soal domestik dan dipandang dengan kategori fisik (seks). Perempuan adalah mitra berpikir laki-laki yang bisa menutupi kekurangan laki-laki. Potensi perempuan tidak jauh berbeda dengan potensi laki-laki.

Seperti yang digambarkan oleh sosok RA Kartini dan perempuan-perempuan inspiratif lainnya. Bahwa aktivitas hebat perempuan tidak lepas dari kebiasaan-kebiasaan membaca, menulis, peka sosial, peduli rakyat dan mengkritik kebobrokan kebijakan penguasa. Tidak mengurung diri di dalam rumah. Tidak hanya sebatas sumur, kasur dan dapur. Ia berpijak dengan potensi yang ia miliki. Kecerdasannya akan melahirkan peradaban-peradaban baru, bekal masa depan. Sikap moderat dalam mamandang perempuan artinya menempatkan pada posisinya (proporsional). Tidak melampaui batas minimal dan maksimal serta mengedepankan nilai toleransi sesama manusia.

Generasi milenial yang hidup di tengah revolusi teknologi sekaligus akan menghadapi bonus demografi. Persiapkan diri dan memperdalam potensi dimulai dari kesadaran akan peran dan fungsi. Memperbanyak membaca dan mengeksplor diri lewat tulisan. Mengirim dan membuat konten kreatif yang mengedukasi adalah karakter milenial. Tiada waktu untuk memperdebatkan kehebatan laki-laki dan perempuan. Tetapi bagaimana mereka saling berpikir untuk bangsa dan negara dengan kompetensi keahlian yang telah dianugrahi.

Zaman serba canggih tidak boleh dipandang sinis. Lewat keterbukaan informasi dan komunikasi kita dapat memperbanyak jejaring dan pengalaman. Perempuan dan laki-laki menawarkan gagasan-konstruktif untuk negeri selayaknya apa yang telah diajarkan RA Kartini. Maka dengan itulah rakyat memperoleh Pendidikan, penguasa tersadarkan. (#)

*Penulis adalah PK. PMII IAIN Parepare dan Mahasiswa FEBI IAIN Parepare.

Pages: 1 2

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *