Opini: Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Refleksi Pemikiran Sosial Keagamaan di Perguruan Tinggi  Islam

Opini: Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Refleksi Pemikiran Sosial Keagamaan di Perguruan Tinggi Islam

Perspektif Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Hubungannya dengan Agama (Part 2)

(Refleksi Pemikiran dalam Bingkai Sosial-Keagamaan untuk Mewujudkan Visi dan Misi Perguruan Tinggi)

Oleh : Hj. St.Aminah Azis, Dosen IAIN Parepare

Nilai-nilai Budaya Lokal sebagai Refleksi Pemikiran Sosial-keagamaan di Perguruan Tinggi  Islam

Dalam dunia perguruan tinggi, perspektif nilai-nilai budaya lokal dan hubungannya dengan agama, sudah barang tentu merupakan refleksi pemikiran dalam bingkai sosial-keagamaan, terjewantahkan ke dalam elemen dasar nilai-nilai yang melekat pada diri Nabi yang Agung. Oleh sebab itu, sifat wajib bagi Rasul ini ada 4 itu, mesti menjadi patron awal, bahkan sejatinya demikian. Di sini pulalah memberikan indikasi pemahaman  bahwa Nabi/Rasul Allah juga dengan intens mencermati budaya lokal sebagai bagin dari peri kehidupan keagamaan yang sudah final.

Sifat-siaf wajin bagi Nabi/Rasul tersebut, adalah:

1.    Shidiq (صِدْقٌ), shidiq artinya selalu benar. Para rasul selalu berkata yang benar, baik benar dalam menyampaikan wahyu yang bersumber dari Allah swt, maupun benar dalam perkataan-perkataan yang berhubungan dengan persoalan keduniaan.

2.    Amanah (اَمَانَةٌ), amanah artinya dapat dipercaya. Para rasul senantiasa menjalankan tugas kenabiannya sesuai dengan tugas yang diberikan allah swt. kepadanya. Demi terlaksananya tugas itu, mereka selalu menjaga jiwa dan raganya dari perbuatan-perbuatan dosa sehingga kepercayaan umat manusia terhadap dirinya senantiasa terjaga.

3.    Tabligh (تَبْلِغٌ), tabligh artinya menyampaikan perintah dan larangan, yaitu rasul selalu menyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang disembunyikan nabi muhammad saw dan tidak disampaikan kepada umatnya.

4.    Fathanah (فَطَانَةٌ), fathonah artinya cerdas. Maksudnya para rasul memiliki kecerdasan dalam menjalankan amanah, tugas, dan tanggung jawab sebagai seorang rasul. Mereka mampu memahami persoalan umat sekaligus memberikan jalan keluarnya. Mereka mampu menghadirkan hujjah atau argumentasi bagi orang-orang yang menentangnya. Mereka juga mampu menanamkan kebenaran ke dalam hati orang-orang yang masih ragu kepadanya.

Kesepadanan antara nilai-nilai budaya lokal dan landasan sifat wajib bagi Nabi/Rasul menjadi tolok ukur yang berspektif orientatif dan saling melengkapi. menjadi tugas perguruan tinggi, khususnya PTAI untuk merumuskan pola pemikiran yang ideal dan bersifat legal formal dalam menjalankan visi dan misi bagi tiap-tiap perguruan tinggi tersebut. Melakukan basic researc dan bahkan risearch orientatif  sosial keagamaan dalam mengangkat harkat dan martabat pemikiran teologi dan kefilsafatan, baik dalam arti umum maupu dalam makna khusus.  

Untuk kepentingan ilmiah di Perguruan Tinggi Islam misalnya beserta komponen indikator dan analisisnya, masing-masing unsur tersebut diklasifikasikan ke dalam unsur-unsur pokok (besar) kebudayaan yang lazim disebut cultural universal. Istilah ini menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut bersifat universal, yaitu dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di manapun di dunia ini. lebih lanjut Kluckhohn sebagaimana yang ditulis Koentjaraningrat, menguraikan adanya tujuh unsur kebudayaan yang memiliki yang dianggap sebagai cultural universal, yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transportasi dan sebagainya)
  2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya)
  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
  4. Bahasa (lisan maupun tertulis)
  5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya)
  6. Sistem pengetahuan
  7. Religi (sistem kepercayaan).

Berdasarkan sifat hakikat kebudayaan tersebut jelaslah bahwa kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, yang meliputi aspek perilaku dan kemampuan manusia, ia menjadi milik hakiki manusia di manapun berada dan keberlangsungan suatu budaya akan sangat ditentukan oleh masyarakat pendukung kebudayaan itu. Konteks dinamisasi inilah yang mesti disikapi sebagai kebutuhan dan memerlukan dalam bentuk visi dan misi PT. Apa yang dilakukan oleh IAIN Parepare sudah barang tentu menjadi pola yang tepat dan terstruktur dalam visi dan misinya. Hanya saja menangkap peluang yang lebih besar dalam perkembangannya memerlukan researc yang tiada berakhir dalam mengantar tri dharma perguruan tinggi yang kompetetif dan universal.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *