OPINI: Peduli Google, Malino pun Jadi Spirit Kekompakan Tim Web

OPINI: Peduli Google, Malino pun Jadi Spirit Kekompakan Tim Web

Penulis: Sirajuddin (Kepala Perpustakaan IAIN Parepare)

OPINI— “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pesan Sastrawan Pramoedya Ananta Toer begitu bisa melekat, menginspirasi sehingga setiap orang seharusnya meluangkan waktu untuk berkreasi dalam tulisan. Menambah wawasan dan berdiskusi bahkan sampai mencatat akhir perjalanan untuk bisa melahirkan sebuah tulisan.

Saya terinspirasi dari perjalanan bersama Tim Website kampus meninggalkan kota Parepare sejauh tidak kurang dari 300 km. Saya jadi abai pada pepatah “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” hmm.

Di tempat yang akan dituju sudah tergambar keindahannya setelah searching google tepatnya di puncak bukit Malino dan kami akan menghabiskan waktu berembuk, berdiskusi, mengupgrade ilmu jurnalis kita dan tentu menuntut ilmunya jadi adem, dan tidak ribet.

Kami pun melesat tepat pukul 13.00 WITA bersama bersama tim yang tidak kurang dari 20 orang, tentu mindset jurnalis ada bersama kami setiap moment mesti diabadikan yang mungkin jadi karya tulis dan karya video setelah kembali ke tempat tugas.

“Jika Anda ingin menjadi seorang penulis, Anda harus melakukan dua hal di atas segalanya: banyak membaca dan banyak menulis.” – Stephen King. Pesan ini menjadi mumpuni ketika kita jadi kehilangan arah dalam bernarasi dan memilih diksi dalam tulisan.

Dalam perjalanan kita belajar dan membaca segala hal tentunya, kami terbagi dalam empat tumpangan mobil dari Tim menuju Villa Rumah Tengah Sawah Malino yang sudah dibooking sebelumnya.

Saya memilih pada tumpangan bersama mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia yang harus saya selami, deep in carrier menyadari profesi saya sebagai pustakawan yang menemukan atmosfir menulis dan publishing dalam tim ini.

Memang saya tidak selihai The Thief of Baghdad (cerita fantasi Arab 1940 an) tapi perjalanan ini saya didudukkan di sisi orang yang saya sebut mumpuni dalam kejurnalisan.

Kita berkelakar sepanjang jalan, saya mencatat kelakar yang berteori (selalu berisi pengetahuan) tentu dari mereka yang saya sapa bang Alf, Bu dir, Bu Mif, dan kedua maestro kamera Yana, Adri. Salah satu dari teman ini sudah didaulat jadi narasumber “keren,” kataku.

Di perjalanan ini ada salah satu guru yang terus membimbing kami menuju Villa, dialah si om google map…hee hee, tanpa dia kami tak tau apa akan tiba? setelah mengabaikan daeng pedagang bakso yang notabene lahir dan besar di sana sudah menunjukkan alamat menuju puncak Malino, tapi dasar… ilmuan jaman digital hanya percaya si om google.

Kami menemukan bentangan Waduk Bili-Bili yang mengagumkan sekagum saya pada sosok yang membuat kami bisa menempuh perjalanan ini menuju puncak Malino ini.

Kabiro (Kepala Biro Kepegawaian) begitu apresiatif memotivasi kami mengisi setiap sambutannya sebagai perpanjangan dari pesan rektor.

“Bahkan sekuntum bunga pun bisa melahirkan banyak ide terbangunnya sebuah artikel opini dan berita yang bisa di publish dan kita sudah memiliki peran masing-masing bahkan artikel itupun bisa menjadi menarik ketika narasi dihiasi oleh foto dokumentasi bahkan mampu mengeksplore lebih dari keindahan yang ada,” Kabiron pun menyisipkan pesan yang mendalam ini di tengah semilir angin Waduk Bili-Bili.

Beberapa waktu setelah pembukaan Capacity Building sembari ber lunch ria, kami melanjutkan perjalanan yang seolah kami disambut barisan pohon Pinus dengan door prize sebuah view barisan warung bernuansa kearifan lokal di sisi hamparan waduk menuju Villa Rumah Tengah Sawah Malino.

Jalan yang berkelok kami lewati mengikuti panduan google map yang sesekali membuat cemas dengan pernyataan belok kiri dan belok kanannya, melewati setiap lintasan dengan papan petunjuk yang tertancap di sisi jalan yang bahkan kadang kami speechless karena keterbatasan kemampuan si gawai menangkap jaringan dan tentu ini konyol pikirku.

Kami pun tertuju pada satu tulisan di ujung tembok “Rumah Tengah Sawah” uhhuii…makasih om google kami ingin bersantai dulu di villa yang tentu butuh edisi kedua (meminjam cerita bung Alf tentang OB memiloti pesawat….wkwkvwk) untuk menceritakan tentangnya, tentangmu dan tentang Tim yang sedikitpun tidak meragukan akan janji kekompakan.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *