Sisihkan Kampus Ternama, Tim Debat Raih Juara 1

Sisihkan Kampus Ternama, Tim Debat Raih Juara 1

Humas IAIN Parepare — Tim debat dari mahasiswa IAIN Parepare meraih prestasi membanggakan. Mereka berhasil meraih Juara 1 pada ajang debat tingkat nasional Islamic Economic Festival 5 (IEFEST5) yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Hasanuddin Banten. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 24-25 Oktober 2020. Debat antar mahasiswa ini belangsung secara virtual.

Tim debat yang menamakan diri “Tim Hijau Tosca” berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Parepare. Tim ini beranggotakan 3 orang, yang terdiri atas Hardiyani Herman (Prodi Perbankan Syariah), Tzaza Aulia Syafira dan Rie Rieyandy Aries masing masing dari Prodi Ekonomi Syariah. Mereka ini adalah mahasiswa berprestasi dan seringkali mewakili IAIN Parepare dalam berbagai ajang.

Perguruan Tinggi yang mengikuti debat tingkat nasional IEFEST 5 di UIN Banten

Dalam ajang debat ini, mereka menyisihkan mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di Indonesia dan meraih juara 1. Ada 21 perguruan tinggi yang mengikuti kegiatan ini, diantaranya Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Dipanegoro Universitas Sumatera Utara, IAIN Tulungagung, IAIN Salatiga, IAIN Lhoksumawe, IAIN Kudus, UIN Walisongo Semarang, IAIN Jember, UNTIRTA, IAIN Palopo dan lain-lain.

Pada bapak penyisihan, Tim debat Hijau Tosca mampu mengunguli tim debat dari IAIN Tulungagung dan mengalahkan tim debat dari IAIN Salatiga dan Universitas Sumatera Utara di babak semifinal. Pertarungan menegangkan terjadi pada babak final. Mereka harus berhadapan dengan tim debat dari perguruan tinggi ternama, yaitu Universitas Dipanegoro.

“Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah Swt bisa meraih juara I,” kata Hardiyani melalui pesan whatshapnya kepada An Ras Try Astuti, salah satu dosen Perbankan IAIN Parepare. Mereka mengaku cukup tegang mengikuti ajang debat tersebut, khususnya pada babak final berhadapan dengan tim dari Universitas Dipanegoro.

“Sistem debatnya sangat berbeda dan kompetitif. Kami tindak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri dari setiap babakan debat. Misalnya babak semifinal, kita berhadapan dua tim dengan jedah waktu yang singkat, tidak lebih dari 1 jam. Mosinya pun baru diberitahukan setelah berada di forum. Sama halnya pada babak final, case buildingnya hanya diberi waktu 10 menit,” kata Hardiayani bercerita.

Saat di tanya, apa kunci keberhasilannya. Hardiayani mengaku jika kuncinya adalah mau belajar dan berproses. “kita harus percaya bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia ketika dilakukan dengan giat dan ikhlas. Tidak akan ada usaha yang menghianati hasil,” kata Hardiyani. “Yakin, proses tidak akan mengkhinati hasil. Pencapaian ini tidak akan membuat kami untuk berhenti berproses,tapi akan kami jadikan pengalaman untuk belajar lebih baik lagi demi prestasi-prestasi gemilang lainnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *