Swafoto Pencitraan?  Ini Bahkan Lebih Baik

Swafoto Pencitraan? Ini Bahkan Lebih Baik

Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare

OPINI — Jalan rusak dan licin yang masih kita saksikan beberapa waktu yang lalu kini sudah berganti dengan jalan beton. Jalan menuju perpustakaan dan auditorium IAIN Parepare itu menelan anggaran tidak kurang dari Rp800 juta. Jalan beton tersebut kini sudah rampung dan mahasiswa bisa mengakses buku-buku perpustakaan dengan mudah.

Tulisan tentang infrastruktur jalan dan gedung perpustakaan kampus ini hanya untuk mendeskripsikan emosi rasa senang menyaksikan para pemustaka (pengunjung perpustakaan) beriring iringan di jalan menuju perpustakaan IAIN Parepare.

Gedung perpustakaan IAIN Parepare semakin terlihat menawan dengan kemegahaanya setelah akses jalan beton rampung ditambah gedung kembar yang berdiri kokoh di depan perpustakaan. Gedung tersebut sumber penganggarannya dari SBSN 2019 sernilai Rp18 miliar lebih dipersiapkan sebagai gedung Rektorat IAIN Parepare. Di sisi kiri perpustakaan, kita bisa lihat auditorium megah yang sudah terbangun.

Gedung atau ruang perpustakaan adalah bangunan sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh pemustaka sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanen, (Soejono Trimo, 1986).

Kampus dengan orang-orang yang cerdas, literat, cendekia yang kerasan berlama lama di dalam perpustakaan, menyelesaikan tugas perkuliahan ataupun hunting buku kesayangan, berdiskusi adalah sebuah harapan.

Dari dalam gedung perpustakaan sambil membaca, kita bisa melihat keluar dari jendela lebar yang berbaris seakan menopang dinding, view gedung yang berbaris rapi di sekitar perpustakaan dan laut pantai yang berjarak kurang dari 1 kilometer dengan hamparan perkotaan yang berjejal.

Aroma menuntut ilmu, berburu ilmu dan belajar akan menyeruak seketika tiba di dalam perpustakaan yang tidak pernah sepi dari pengunjung di hari perkuliahan aktif ini.

Apakah mungkin? Disuatu hari nanti tempat yang sejuk di dalam perpustakaan akan bisa menjadi tempat pilihan berkontemplasi menenangkan diri, menghilangkan dahaga dari kekeringan ilmu seperti kondisi-kondisi yang saya gambarkan…?

Atau jumlahnya akan melebihi pemustaka yang tiap hari beriringan menuju perpustakaan atau mungkin suatu suatu saat mungkin hilang karena gagal cinta Perpustakaan?

Civitas akademik yang mayoritas mahasiswa itu yang masih dengan semangat gegap gempita berkunjung ke perpustakaan yang oleh Rektor akan diberi nama “Perpustakaan KH Ambo Dalle” ini, untuk merasakan kenyamanan di dalam perpustakaan dengan view pantai dan barisan gedung megah di sekitar perpustakaan.

Bagi yang keranjingan membaca, tentu kondisi ini akan mengusik antusias membaca. Saya berharap kondisi ini bertahan dan mampu menjadi awal para pemustaka atau civitas akademik untuk cinta membaca dan cinta perpustakaan.

Mahasiswa saat ini dengan mudah dan nyaman mengakses dan menikmati membaca di perpustakaan dengan selesainya akses jalan beton menuju perpustakaan.

Akan tergambar juga habituasi remaja milenial ketika berada di tempat dengan view yang menarik akan mengambil gawai dan ber swafoto mengunggah memberikan citra pada dirinya bahwa sudah berkunjung keperpustakaan.

Hmm… “Meskipun hanya pencitraan kalau itu di perpustakaan akan lebih bernilai ketimbang tidak pernah ke perpustakaan sama sekali”, ini yang ada di benak saya.

Saat ini kita masih dihadapkan pada kemalasan membaca, kita sudah lama sekali memunggungi kemalasan membaca, di era disrupsi informasi dan pmbangunan infrastruktur perpustakasn saat ini. Sangat absurd jika kemalasan membaca itu ada.

Dibutuhkan adanya pengkondisian, upaya pengakulturasian budaya membaca dan cinta perpustakaan sehingga akan mengangkat opini publik bahwa masyarakat kampus adalah masyarakat ilmiah. (*)

Editor : Alfiansyah Anwar

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *