Tasawuf  di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme

Tasawuf di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme

Judul: BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN
Pengarang: B. Wiwoho
Penerbit: Republika Penerbit, 2016
ISBN: 6027595582, 9786027595583
Tebal: 414 halaman
Peresensi: Sirajuddin

Dalam ulasan buku berjudul “BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN: Hidup bersih, sederhana dan mengabdi”

“Tasawuf bagaikan salon kecantikan jiwa dan juga rumah sakit, yang memberikan kiat-kiat pembinaan agar manusia bisa hidup BSM yaitu Bersih, Sederhana, dan Mengabdi.”
—Prof. K.H. Ali Yafie, Ulama

Pendahuluan

Rangkaian narasi dalam buku “Bertasawuf di Zaman Edan: Hidup Bersih Sederhana dan Mengbdi” ini menggambarkan sosok penulisnya ‘Bambang Wiwoho’ yang akrab disapa ‘Mas Wie’, adalah seorang pelaku pencari kebenaran dan kesejatian. Buku ini sebagai tanda bakti untuk Pulang Ali Yafie di usia 93 tahun.

Pujangga raja dalam tembang Dhanggala menasihatkan: Jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya tahu hukum (Syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara), syukur Petapa dan sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berfikir lagi tentang pemberian orang lain. Kyai Ali Yafie sangat pantas menyandang “Mursyid” (guru tasawuf), B. Wiwoho sang murid memberi ruh tulisan dalam buku ini sebagai spirit Kyai Ali Yafie.

Buku yang mengetengahkan pertanyaan yang relevan dengan zaman ini, Mengapa di zaman ini begitu kacau atau mengapa dunia ini bisa kacau? Itu karena terlalu banyaknya orang yang tidak tahu diri, tidak bisa menempatkan diri. Dalam dunia Tasawuf sering di ungkapkan “arafa nafsahu faqad arafa rabahu” (siapa yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya).

Bertasawuf dan era modern adalah dua hal yang bertolak belakang tentu muncul pertanyaan “Apa mungkin bertasawuf di era modern ini yg di dalam buku ini di katakan di zaman edan?”.

Era modern adalah era kompetisi yang mengantarkan manusia bergumul memperoleh kekuasaan duniawi, era yang gaduh dan memaksa setiap orang memikirkan diri sendiri, kemudian Tasawwuf secara umum mendorong untuk hidup prihatin dan sederhana dan kehidupan sufi untuk dekat dengan Tuhan mereka menempuh jalan panjang yang disebut “Maqamat” dalam bahasa Arab dan “Stages” bahasa Inggris.

B. Wiwoho merangkainya dalam tulisan dalam berbagai topik dan sub topik merangkai Tasawuf di kancah pragmatisme dan hedonis masyarakat.

Awal periode Orde Baru tahun 1967 secara ekstrim faham ideologi yang ada pada waktu itu berubah menjadi faham pragmatisme (faham yang berorientasi membuahkan hasil nyata) tujuan inilah yg berimbas pada “tujuan menghalalkan cara” inilah ciri zaman edan.

Masyarakat yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis tersebut bukan hanya adanya di Indonesia, namun seluruh masyarakat dunia pada umumnya dan kita menjadi bagian dari “Tatanan Dunia Baru” dunia yang dibangun oleh kapitalisme global (kapitalisme barat dan Cina).

Mendidik Diri dengan Bertasawuf

Tasawuf adalah sebuah ajaran cabang ilmu dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, sebuah cara dan jalan menuju kebenaran, yang dimulai dengan pengenalan diri, melalui pengendalian nafsu, menata batin dan bersandar hanya kepada Allah.

Tasawuf mendidik hidup menjadi manusia yang wara’ ikhlas dan damai berbuat, lantas bertasawuf di era globalisasi, apa mungkin? Apakah itu tidak berarti bahwa kita kembali ke zaman primitif, inilah pandangan yang keliru karena Rasulullah sendiri bermakrifat dengan cara mendekatkan diri dengan sahabat dan pengikutnya bukan dengan hidup menyendiri.

Ibnu Khaldun menjelaskan bertasawuf adalah mendidik Budi pekerti agar tidak tamak, tidak ujub dan tidak riya’ tetapi menjadi manusia yang rendah hati, ikhlas dalam beribadah dan damai dalam perbuatan.

Tasawuf membagi ibadah dalam dua jenis yaitu ibadah lahir dan ibadah batin. Rukun Islam yang lima adalah bentuk-bentuk dari ibadah lahir, sedangkan bentuk ibadah batin ialah ikhlas, tidak ujub, tidak riya’, tawadhu, tidak punya sifat iri dan dengki, tawakal, sabar, tahan uji dan tahan menderita.

Tasawuf sebagai Fasilitas Kehidupan

Prof. K.H. Ali Yafie, mengibaratkan tasawuf dengan dua fasilitas kehidupan modern, yang pertama ibarat salon kecantikan, dan kedua ibarat Rumah sakit. Keduanya memiliki tugas yang hampir sama dan saling berkaitan, yaitu mengobati, merawat serta mempercantik kalbu atau hati nurani.

Tiga komponen dasar kehidupan yaitu, nafsu akal dan kalbu. Kyai Ali Yafie menjelaskan itu adalah syahwat yang merupakan komponen penggerak diri manusia. Syahwat hawa nafsu yang ada dalam diri harus diperangi.

Komponen akal, syahwat dan komponen inilah yang memberikan daya pikir, nalar sekaligus pengendali, kita bisa berfikir dan menganalisa karena memiliki akal, yang mempunyai bentuk materi yang disebut otak, demikian yang dinasehatkan Kyai Ali Yafie.

Komponen yang ketiga yaitu kalbu atau hati nurani, adalah perasaan halus yang ada dalam diri manusia yang paling dalam, kalbu atau hati nurani adalah tempat terpantulnya Hidayah Allah dan komponen ini sangat erat hubungannya dengan agama, namun disayangkan karena tidak semua orang memiliki kalbu yang berfungsi.

Namun menurut Kyai Ali Yafie dari ketiga komponen itu 80% diri kita digerakkan oleh nafsu dan selebihnya adalah akal dan pikiran. Hal tersebut juga diungkap Ibrahim elfiky dalam bukunya (Terapi berfikir positif) bahwa manusia memiliki 60000 pikiran, dari 60000 ada 45000 atau 80% adalah negatif thinking.

Komponen Nafsu, Akal dan Kalbu diramu dalam sub sub pada buku yang berjumlah 376 halaman ini anda akan berliterasi tasawuf sebagai penata batin, memetik hikmah kehidupan, menempatkan perilaku, mengenal tipu daya setan, penguat zikir, dan alasan memilih jalan Tasawuf.

Berawal dari Belajar, Berakhir dengan Amal (@hayanaaa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *