Tausyiah Ramadhan; Aku Berpikir maka Aku Muslim, Karena Aku Muslim maka Aku Berpikir

Tausyiah Ramadhan; Aku Berpikir maka Aku Muslim, Karena Aku Muslim maka Aku Berpikir

Humas IAIN Parepare — Ustas Tamsil Hadi, Kepada Satuan Pengawas Internal (SPI) IAIN Parepare tampil memukau saat membawakan tausyiah Ramadhan di depan peserta meeting ASN IAIN Parepare, Senin, 4/5/2020.

Dalam tausyiah model halaqah yang di implementasikan dalam majelis daring ini   Tamsil Hadi banyak menyampaikan  hikmah yang mengingatkan kepada kita tentang pentingnya selalu mensyukuri nikmat. Dikatakan bahwa “Tidak ada yang lebih mengetahui nilai dari sebuah kenikmatan dibandingkan mereka yang telah kehilangan kenikmatan dari dirinya”.

Peserta Meeting ASN IAIN Parepare sedang mengikuti Tausyiah Ramadhan

Tamsil Hadi memberi judul tausyiahnya “aku berpikir maka aku muslim, karena aku muslim maka aku berpikir”. Judul ini mirip kata-kata filsuf ternama, Rene Descartes “cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir maka aku ada. Tetapi menurut Tamsil Hadi, dia tidak terinpirasi dari filsuf itu. Melain diilmahi sebuah buku yang berjudul al- fikrul Islamiyah karangan Muhammad Ismail.

Dalam buku ini, menurut Tamsil Hadi, ada 3 parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kebenaran sebuah ide, pemikiran,, nilai, atau bahkan agama. Ketiga parameter itu adalah 1) Apakah ide itu memuaskan akal; 2) Apakah ide itu sesuai fitrah dan 3) Apakah ide itu memberi ketenangan jiwa. “Kenapa kualitas berislam dari orang yang beriman itu berbeda-ada? Itu karena ada muslim yang beriman atas keterpuasannya dari ketenangan jiwa, ada yang terpuaskan atas kesesuaian fitrah, dan masih kurang yang terpuaskan dari sisi akal pikiran”, urainya.

Kepala SPI ini menghendaki, keyakinan keber- Islaman orang beriman harus dibangun di atas pijakan argumentasi yang bersifat rasional. “Memuaskan akal kita” tegasnya. Dalam penjelasan selanjutnya, Tamsil Hadi mengemukakan bahwa muncul perbedaan dalam memahami akal atau pikiran. Apakah akal itu adalah otak yang berada di kepala? Apakah akal itu memiliki keterbatasan?

Dalam tinjauan budaya, menurutnya manusia menjadi aktor utama dari sebuah peradaban karena manusia memiliki akal. Akal menjadi inti pembeda, inti kapasitas dan inti keunggulan manusia dibanding mahluk lain. Hanya saja, akal ini memiliki dua potensi bagi manusia, yaitu mengangkat derajat manusia ketingkat yang paling tinggi, sekaligus berpotensi membawa derajat manusia ketingkat paling rendah, hina dibanding binatang.

Diakhir Tausyiah yang meenghabiskan waktu yang tidak kurang dari 30 menit, Kepala SPI,  Tamsil Hadi menyimpulkan bahwa nikmat manusia dan akal ini perlu disyukuri dengan cara menggunakannya secara optimal dan tidak melampaui batas. Punya akal belum tentu dipakai berpikir, dan ketika akal tidak dipakai berpikir maka pada saat itulah kehinaan kita sebagai manusia menjadi nyata. Islam adalah agama yang mendorong manusia untuk memaksimalkan potensi akal yang diberikan.

Rapat daring yang dilaksanakan sejak awal ramadahan ini,  Hj. Musyarrafah Amin,  dengan dalam sambutanya yang kembali mengapresiasi kegiatan tausyiah yang rata rata diikuti tidak kurang dari 32 orang setiap harinya dan memotivasi tenaga kependidikan untuk meningkatkan kreativitas yang menurutnya bahwa “melalui rapat daring yang diawali dengan kegiatan tausyiah ini,  banyak ditemukan skill ulama dan pendakwah yang sebelumnya tidak diduga dan diharapkan ini berkelanjutan meskipun nanti tidak lagi dalam suasana ramadhan”.

Penulis : Sirajuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *